"Kalau 2008 surplusnya US$ 6-10 milyar. Nah jika LPEI segera bekerja maka surplus 2009 bisa meningkat menjadi US$ 20-35 miliar," ujar Ekonom BNI Ryan kiryanto dalam media work shop Indonesia Exim Bank 'The Transformation Has Begun' di Hotel Salak, Bogor, Jawa Barat,Jumat (19/12/2008) malam.
Dengan diubahnya Bank Ekspor Indonesia menjadi LPEI, lanjut Ryan, maka lembaga ini akan lebih powerfull untuk melakukan pendanaan bukan saja pada eksportir tapi juga kepada buyer akibatnya frekuensi dan transaksi ekspor impor itu akan lebih banyak ketika lembaga ini hadir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara kehadiran Permendag No 44 tahun 2008 yang akan diterapkan pada 1 Januari 2009, imbuh Ryan, dinilai akan mengurangi lubang-lubang penyelundupan barang impor. "Jalan tikus sudah tidak ada sehingga semua akan tercatat dan akumulasi akan lebih bernilai untuk terjadi surplus. Apalagi jika komponen-komponen impor yang selama ini dominan itu disubstitusi dengan komponen domestik," katanya.
Ryan menambahkan kehadiran LPEI juga tidak akan menjadi kompetitor bagi bank-bank yang sudah punya trade finance. "Kehadirannya justru bisa terjadi kolaborasi. Kalau pembiayaan trade finance-nya besar, LPEI bisa sindikasi dengan bank-bank lain yang punya transaksi trade finance," ujarnya
Ryan menyarankan agar LPEI juga berkoordinasi dan bank-bank yang punya kantor perwakilan di luar negeri."Seperti BNI, dengan lima outlet BNI, LPEI akan lebih mudah mencari mitra dagang di negara dimana outlet tersebut berada dan akan memperkuat bank koresponden. Selain BNI, bank yang memiliki outlet di luar negeri yaitu Mandiri, Lippo dan BCA," paparnya. (epi/ir)











































