"10 tahun lalu ada pembiayaan dari Jepang berupa pinjaman lima tahun untuk menjamin LC dan itu sudah lunas di 2003. Ketika kita akan meminjam lagi, mereka bilang nanti kalau sudah jadi LPEI. Kalau 10 tahun lalu US$ 1 miliar masa sekarang masih segitu. Nanti dana itu tidak hanya untuk LC tapi juga untuk kegiatan-kegiatan lainnya," jelas Direktur Utama Bank Ekspor Indonesia Arifin Indra usai media work shop Indonesia Exim Bank 'The Transformation Has Begun' di Hotel Salak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (20/12/2008).
Arifin menambahkan, dalam masa transisi BEI menjadi LPEI saat ini pihaknya telah menyiapkan SOP, policy, sistem dan juga jumlah resource yang harus disiapkan.
LPEI sendiri baru terbentuk paling cepat enam bulan ke depan sejak UU LPEI disahkan DPR beberapa hari lalu. Saat ini modal awal LPEI Rp 4 triliun dengan aset Rp 14 triliun, dan pembiayaan awal adalah Rp 12 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
LPEI, lanjut Arifin, justru akan menjadi fasilitor jika terjadi hambatan di perbakan atau sektor keuangan. "Harusnya LPEI ini dianggap sebagai solusi. Misalnya Kalau sudah ada LPEI ketika Cina Exim Bank memberikan fasilitas pinajaman pada PLN untuk pembangkitan listrik dia tidak perlu minta surat dari pemerintah. Cukup Exim Bank dengan LPEI," katanya.
Menurut Arifin, LPEI ini akan bergerak untuk skala jangka menangah dan panjang. "Kalau jangka pendek biar perbankan. Tapi kalau dibutuhkan ke jangka pendek bisa saja namanya rediskonto dan melakukan refinancing kepada perbankan." jelasnya.
Dengan menjadi lembaga sovereign, kata Arifin, peranan LPEI sangat besar. "LPEI ini akan meliputi pembiayaan, penjaminan dan asuransi dan advisory. Pembiayaan yang paling gampang modal kerja dan investasi. Dulu pembiayaan hanya kepada eksportir dalam negeri nanti juga termasuk buyer luar negeri. Kalau ada permintaan untuk menjamin ekpor kami akan lakukan itu, begitupun asuransi dan advisory baik secara konvensional maupun syariah," katanya.
(epi/ir)











































