Bank Enggan Jual Sukuk Ritel

Bank Enggan Jual Sukuk Ritel

- detikFinance
Selasa, 23 Des 2008 09:20 WIB
Bank Enggan Jual Sukuk Ritel
Jakarta - Minimnya minat perbankan untuk menjadi agen penjual sukuk ritel disebabkan karena perbankan khawatir dana depositonya akan lari ke sukuk ritel.

Hal ini dikatakan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (23/12/2008).

"Kebanyakan dari bank masih mengkhawatirkan kondisi likuiditasnya. Kekhawatiran yang tidak mendasar," tandas Rahmat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rahmat mengungkapkan dirinya sudah pernah berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk melakukan stress test terhadap kondisi likuiditas perbankan terkait berkurangnya deposito.

"Ternyata, kondisi sektor perbankan yang sebetulnya secara aggregate masih over liquid masih bisa bertahan jika depositonya berkurang sampai dengan Rp 75 triliun. Padahal size sukuk ritel tidak sampai sebanyak itu," jelasnya.

Memang pada tahap seleksi agen penjual sukuk ritel, telah ditetapkan 13 calon agen penjual dan dari 13 calon tersebut hanya ada 5 bank yaitu Bank Mandiri, Citi Bank, HSBC, BII dan satu bank syariah yaitu Bank Syariah Mandiri. Sedangkan 8 sisanya adalah perusahaan sekuritas.

Meskipun begitu, Rahmat tetap optimis sukuk ritel akan diminati masyarakat karena pemerintah menjanjikan imbal hasil yang lebih baik untuk sukuk ritel dibandingkan deposito.

"Berapapun jumlah sukuk yang dibeli seluruhnya dijamin 100% oleh pemerintah," ujarnya.

Selain itu, Rahmat berjanji dalam strategi pemasaran instrumen sukuk ritel yang rencananya akan diterbitkan akhir Februari 2009 ini, pemerintah akan mengadakan masa penawaran yang lebih lama.

"Serta sosialisasi yang menyebar ke pelosok tanah air dengan melibatkan lebih banyak stakeholder," imbuhnya.

Sukuk ritel ini rencananya akan dijual dengan harga Rp 1 juta per unit dan minimal pembelian adalah Rp 5 juta. "Jumlah underlying asset yang masih tersisa tahun ini Rp13 triliun," tukasnya

(dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads