Hadang Krisis, Percepat Merger Perbankan

Hadang Krisis, Percepat Merger Perbankan

- detikFinance
Selasa, 23 Des 2008 09:57 WIB
Hadang Krisis, Percepat Merger Perbankan
Jakarta - Guna menghadang ancaman krisis di sektor keuangan global menjalar kepada sektor keuangan di Indonesia khususnya perbankan, permodalan perbankan nasional harus diperkuat dengan cara mempercepat penggabungan usaha atau merger bank nasional yang jumlahnya saat ini sebanyak 102 bank.

Demikian diungkapkan oleh Ketua BPK Anwar Nasution dalam makalahnya berjudul "Krisis Keuangan Global dan Indonesia" yang dikutip detikFinance, Selasa (23/12/2008).

"Karena peningkatan ancaman krisis global saat ini, dengan mudah rasio kecukupan modal dapat berubah dari 15% menjadi 5%. Modal bank-bank nasional tersebut dapat ditingkatkan dengan mempercepat penggabungan usaha atau merger bank nasional yang berjumlah 102 dewasa ini," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anwar juga menuturkan, merger bukan hanya dilakukan oleh bank-bank swasta yang memiliki modal kecil saja, tapi juga diperlukan oleh bank-bank milik negara yang saat ini berjumlah 5 bank.

"Sementara itu, perlu semakin dipikirkan apa peranan dan kontribusi 26 BPD yang masih ada pada perekonomian daerahnya, selain hanya menjadi kasir Pemda dan penyedia kredit seba guna bagi karyawan Pemda. Untuk sementara pemerintah pun dapat menambah modal bagi bank yang viable," ujarnya.

Menurut Anwar, dengan peningkatan modal maka rasio kecukupan modal atau CAR perbankan juga akan ikut meningkat. Dan penting untuk meningkatkan CAR perbankan hingga di atas 8% agar dapat menghadapi risiko kredit, risiko pasar maupun risiko operasional yang semakin meningkat di tengah krisis.

Kemudian dikatakan Anwar bank-bank juga agar lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya. "Seyogyanya otorita juga jangan lagi menggunakan bank-bank negara maupun bank-bank nasional sebagai bagian dari strategi gali lubang, tutup lubang seperti penempatan dana berbagai bank nasional pada NV Indover yang beroperasi sebagai hedge funds. Pada akhirnya kerugian seperti itu akan digeser kepada masyarakat melalui anggaran negara," pungkasnya.

(dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads