Demikian diungkapkan oleh Ekonom Fadhil Hasan yang dihubungi detikFinance, Minggu (28/12/2008)
"Sudah seharusnya pemerintah merespons penurunan harga BBM dengan menurunkan BI Rate hingga 50 basis poin," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, penurunan BI Rate ini memungkinkan karena tekanan inflasi diharapkan tidak sekeras bulan-bulan sebelumnya, terutama karena pemerintah sudah dua kali menurunkan harga BBM. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun relatif stabil dan masih pada batas aman di kisaran Rp 11.000/US$.
"Dari sisi harga komoditas dan bahan kebutuhan pokok pun sudah sewajarnya BI Rate berada di 8,75 persen," ungkapnya.
Fadhil juga mengatakan, pemangkasan suku bunga acuan tersebut seiring dengan rencana pemerintah untuk menggeliatkan sektor riil sebagai penggerak perekonomian. Jika suku bunga sudah rendah, para pengusaha sektor riil akan lebih mudah bangkit, terutama dalam mencari tambahan dana dari pinjaman perbankan. (ang/lih)











































