Direktur Bisnis Umum BRI, Sudaryanto Sudargo mengatakan, hingga saat ini kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan masih cukup besar karena memang kebanyakan dari investasi-investasi jangka panjang dan besar.
"Sudah kita putuskan, tapi belum direalisir karena jangka panjang, 2 sampai 3 tahun," ujarnya saat ditemui di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (30/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa realisasi kredit korporasi besar lain yang juga minim realisasinya adalah untuk kredit perkebunan dan juga pembangkit listrik.
"Kalau perkebunan memang ada, tapi porsinya seimbang, nanti tiap tahun mengecil. Power plant begitu juga. Juga ada pabril gula yang penyerapannya masih belum banyak. Tapi kita harapkan kalau pemerintah menggerakkan infrastruktur seperti power plant dll, itu nanti bisa terserap juga," tambahnya.
BRI Masih Pertahankan Porsi Dana Murah
BRI akan tetap mempertahankan porsi dana-dana murahnya hingga di atas 50 persen di tahun 2009. Meskipun diakui bahwa persaingan untuk dana-dana murah ini sangat ketat.
"Paling tidak kita pertahankan 60 persen, memang agak sulit tapi tetap di atas 50 persen," katanya.Β
Β
Sudaryanto menegaskan bahwa untuk tabungan dan giro memang akan terjadi persaingan ketat. Untuk mempertahankan posisinya, BRI akan terus menjaga jaringan-jaringan gironya termasuk dengan pengusaha-pengusaha kecil yang mendapat kucuran dana APBN.
"Itu kita pegang, itu kan nggak langsung mengalir habis. Tahun depan kita masih pegang treasury single account. Jadi kalauΒ APBN itu akan dikucurkan untuk infrastruktur, toll road, power plant, dan sebagainya. Itu nanti kan masuknya melalui kita. Sebab kita pegang dana, nanti kita bisa biayai kontraktor-kontraktornya. Jadi masih ada lewat-lewat, ngendap-ngendap dikit lah, sehari dua hari, itu giro yang murah-murah," urainya.
(qom/lih)











































