Pemerintah Cari Pendanaan Shibosai Pertengahan 2009

Pemerintah Cari Pendanaan Shibosai Pertengahan 2009

- detikFinance
Rabu, 07 Jan 2009 15:15 WIB
Pemerintah Cari Pendanaan Shibosai Pertengahan 2009
Jakarta - Pemerintah akan mulai mencari alternatif pinjaman dengan skema Shibosai pada pertengahan tahun 2009. Diversifikasi pinjaman dalam mata uang yen ditambah karena dinilai memiliki risiko yang rendah.

"Itu sedang kita jajaki juga. Kita optimistis mungkin paling cepat pertengahan tahun ini," kata Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto disela-sela jumpa pers sukuk ritel di gedung depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (7/1/2009).

Shibosai adalah surat utang yang diterbitkan dalam mata uang yen dan dilelang di pasar Jepang. Lelang dilakukan dengan menggunakan skema penempatan langsung dan terbatas kepada investor tertentu, bukan melalui penawaran umum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syarat utama penerbitan Shibosai adalah adanya proyek yang akan dibiayai oleh dana obligasi itu. Maka itu sebelum menerbitkan Shibosai, peminjam harus menentukan terlebih dahulu proyek-proyek yang akan dibiayai dana dari penerbitan surat utang ini.

Menurut Rahmat, Shibosai ini memang sesuatu yang baru bagi pemerintah apalagi pasar Jepang juga sangat selektif dalam penerbitannya jika membeli instrumen baru dari negara lain.

"Apalagi kalau prinsipnya investment rate. Mungkin ada sweetener sedikit dari suatu lembaga keuangan di Jepang. Saya tidak akan berikan namanya, kerena belum final. Kita berusaha mencari lembaga keuangan yang berbasis di Jepang yang punya reputasi. Dalam skema begini, perlu ada yang memberikan sweetener, perlu ada joint lead manager. Pihak-pihak itu yang sekarang sedang kita approach," tutur Rahmat.

Rahmat menjelaskan ada kelebihan dalam penerbitan Shibosai, pertama ada yang memberikan sweetener, dan kedua ada pihak yang memberikan arrangement. "Itu yang sedang kita approach, dua-duanya preferable berbasis di Jepang," katanya.

Alasan pemilihan untuk pinjaman dalam mata uang Jepang ini menurut Rahmat karena eksposur pinjaman dalam yen cukup besar yakni 19% dari pinjaman luar negeri Indonesia. Selain itu yen juga merupakan mata uang keras (hard currency) yang artinya potensi untuk menambah curency risk cukup rendah.

"Kita harus melakukan natural hedging, mencari dana-dana baru untuk membayar kembali pinjaman yang didominasi yen. Itu natural hedging. Jadi harus dilihat juga jadwal kita menerbitkan yen denominated bond, dengan cash outflow kita. Pertengahan tahun itu ancer-ancer, bisa sooner bisa later," jelasnya.

(ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads