Investor Kakap Ramai-ramai Lepas Saham di Perbankan China

Investor Kakap Ramai-ramai Lepas Saham di Perbankan China

- detikFinance
Rabu, 07 Jan 2009 18:46 WIB
Jakarta - Bank kelas kakap asal AS, Bank of America, akhirnya menjual sahamnya di China Construction Bank senilai US$ 2,83 miliar. Aksi ini lalu diikuti pengusaha terkaya di Hong Kong yang juga menjual sahamnya di Bank of China senilai US$ 524 juta.

Seperti dikutip Reuters Rabu (7/1/2009), Bank of America (BoA) menjual lebih dari 5,62 miliar sahamnya di Construction Bank seharga HK$ 3.92 per lembar. Total nilai penjualan saham BoA mencapai sekitar US$ 2,83 miliar.

Dengan harga tersebut, artinya BoA meraup untung sekitar US$ 1,13 miliar jika dibandingkan dana yang dikeluarkan saat membeli saham Construction Bank waktu IPO di 2005. Nilai ini juga lebih rendah sekitar 12% dari harga saham Construction Bank saat penutupan perdagangan di hari Selasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hal ini memang sudah bisa diduga, tetapi para investor masih sulit menerimanya karena BoA dipastikan akan menjual lebih banyak lagi. Mereka membutuhkan dananya," kata GM Fulbright Sucirities Hong Kong, Francis Lin seperti dikutip Reuters.

Saham yang dijual ini mewakili sekitar 2,5% dari total saham di Construction Bank. Dengan adanya penjualan ini, maka saham BoA kini hanya memiliki porsi kepimilikan sebesar 16,6%.

Seorang investor asal Hong Kong kemudian menyusul aksi BoA dengan menjual sahamnya di Bank of China senilai US$ 524 juta.

Investor Hong Kong ini diketahui terkait dengan Li Ka-shing yang merupakan pimpinan konglomerasi Hutchison Whampoa Ltd and pengembang properti Cheung Kong (Holdings).

Investor tersebut menjual 2 miliar sahamnya dengan harga HK$ 1,98-2.03 per lembar. Harga penjualan ini lebih rendah 5-7,5% dibandingkan penutupan sebelumnya yang sebesar HK$ 2,14 per lembar. Harga ini bahkan lebih rendah dari harga IPO Bank of China yang sebesar HK$ 2,95 per lembar.

Akibat penjualan saham ini, saham-saham perbankan China langsung berguguran karena para investor yang pesimistis pada pertumbuhan pendapatan bank-banak tersebut.

Setidakanya ada tiga perbankan besar China yang dilirik perusahaan investasi skala besar. Salah satu diantara investor tersebut adalah Royal Bank of Scotland.

(lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads