Hal ini dikatakan oleh Kepala Eksekutif LPS Firdaus Djaelani ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Rabu malam (7/1/2009).
"Bank Century aman-aman saja. Tapi sampai Desember 2008 DPK-nya turun Rp 3 sampai 3,5 triliun," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"CAR-nya pokoknya kita jaga dia harus di atas 8%. Kemarin kan dia 10% CAR-nya lalu turun sedikit. CAR itu tergantung, kalau dia rugi CAR-nya mulai turun, tapi tetap kita jaga di atas 8%. Sekarang masih di atas 8%, karena ketentuan minimalnya 8%," jelasnya.
Selain itu, Firdaus mengatakan saat ini khususnya mulai awal Januari 2009, dana-dana nasabah sudah mulai kembali masuk ke Bank Century khususnya nasabah korporasi BUMN.
"Memang masih ada penarikan karena mereka butuh likuiditas, dan sudah ada nasabah yang masukin lagi. Dan manajemen mengatakan pada awal Januari 2009 sudah ada cash inflow baik dari nasabah korporasi BUMN sudah mulai jalan," katanya.
Sementara itu untuk perubahan core business atau bisnis inti Bank Century, Firdaus menjelaskan arah bisnis Bank Century ke depan sedang dibahas oleh manajemen.
"Pokoknya yang mana kurang akan kita atasi, atau misalnya yang ini nggak bagus produknya, ya nggak kita pakai, yang kita pakai yang bagus-bagus. Kalau untuk kemana bank ini, ini yang masih kita bahas. Bank ini kan satu-satunya etnis cina banyak disini, apakah kita mau fokus disitu. Tapi kita juga ingin membuka diri untuk nasabah-nasabah lain," tuturnya.
Untuk rencana bisnis di 2009, dikatakan Firdaus saat ini memang manajemen sudah membuat rencana bisnis sementara Bank Century. Namun Bank Indonesia dan LPS sendiri sedang melakukan audit untuk Bank Century sebagai acuan rencana bisnis di tahun ini.
"Sekarang Century sedang dilakukan audit, audit investigasi oleh BI, sementara LPS melakukan audit ekuitas. Itu supaya pada saat kita susun bisnis plan, bisnis plan itu disusun berdasarkan angka audit, sebab sekarangkan disusun berdasarkan hasil manajemen saja," pungkasnya.
(dnl/lih)











































