Hal ini dikatakan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D. Hadad dalam acara seminar sehari "Outlook Ekonomia Perbankan & Properti: Di Tengah Badai Krisis Finansial Global" di Menara BTN, Jakarta, Rabu (14/1/2009).
"Nanti akan diumumkan pada Bankers Dinner yang akan dilakukan 30 Januari 2009 ini," tukasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Modal itu seperti shock breaker mobil untuk meredam gejolak, bisa menjadi bantalan atau cushion. Jadi semakin bergejolak jalannya maka harus semakin diperkuat shock breaker-nya. Oleh karena itu perlu tambah modal, meskipun tidak perlu besar," tuturnya.
Muliaman mengatakan, jika perbankan ingin tetap berekspansi di tengah berbagai risiko yang meningkat, maka modal perlu ditambah sebagai bantalan untuk menghadang krisis.
"Dengan profil risiko yang lebih besar, maka permodalan perlu diperkuat, karena risiko ke depan semakin besar dan harus bisa dikelola," katanya.
Muliaman mengatakan sampai Desember 2008 rasio kecukupan modal atau CAR rata-rata perbankan nasional adalah 16,3% dan di 2009 Bank Indonesia memperkirakan CAR perbankan akan menurun menjadi 14,3%. (dnl/lih)











































