RBS mengumumkan angka kerugian tersebut hanya beberapa saat setelah pemerintah Inggris mengumumkan paket penyelamatan sektor finansial kedua. Paket itu didesain untuk menyelamatkan perbankan Inggris dari terpaan badai krisis yang hingga kini belum juga berakhir.
Saham RBS langsung anjlok hingga 67% ke 11,6 pence, bahkan sempat menyentuh 10 pence. Saham-saham perbankan lain juga merosot tajam di Bursa London.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis menilai masih banyak ketidakpastian mengenai dampak rencana penyelamatan oleh pemerintah untuk bisa memperbaiki kerusakan di sektor finansial, terutama setelah RBS mengumumkan angka kerugian. Apalagi RBS menyatakan bahwa ukuran dan waktu kerugian krisis kedepan tidak dapat diprediksikan.
"Berapa banyak modal yang diperlukan? Jawabannya adalah tak seorang pun yang tahu," ujar Simon Willis, analis dari NCB Stockbrokers, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/1/2009).
Kerugian terbesar terutama terkait nilai jaminan aset RBS setelah bank tersebut mengambil bagian besar dalam konsorsium yang mengambil alih ABN Amro pada tahun 2007.
Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown yang baru saja mengumumkan rencana penyelamatan sektor perbankan menyalahkan RBS karena telah membuat investasi yang salah.
"Sekarang kita tahu banyak yang menderita kerugian dalam kredit subprime di AS dan sekarang kita tahu bahwa beberapa hal diantaranya terkait masalah pembelian ABN Amro. Saya kira orang punya hak untuk marah atas hapus buku yang terjadi dan hapus buku itu disebabkan oleh keputusan yang dibuat terkait investasi internasional yang jelas sekali merupakan investasi yang salah," ketus mantan Menteri Keuangan Inggris ini seperti dikutip dari AFP.
Dalam rangka menambah modalnya, RBS pada pekan lalu juga telah menjual sahamnya di Bank of China senilai 1,6 miliar pounds.
(qom/qom)










































