Danareksa Sekuritas dalam risetnya yang ditulis Diman A Negoro, memaparkan analisis fundamental terhadap saham Bank Danamon, Kamis (22/1/2009).
Indikasi Kinerja 2008
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Net profit after tax (NPAT) 2008 sebesar Rp 1,5tn, atau turun 29% YoY dikarenakan kerugian derivatif. Tahun 2007 NPAT Danamon sebesar Rp 2,1 triliun.
- Tanpa kerugian derifatif, NPAT dapat mencapai Rp 2,3 triliun atau naik 10% yoy
- CAR sebesar 13%, masih di atas ketentuan yang sebesar 8%
- Pertumbuhan pinjaman 25% yoy, atau -0,7% dari gross loan (pinjaman kotor) 3Q08
- Pertumbuhan simpanan 24% yoy atau +2% dari 3Q08
- Perbaikan likuiditas: LDR FY2008 sebesar 86% dari sebelumnya 91% di 3Q08.
Kontrak:
- Foreign exchange forward contract.
- Cash delivery dalam USD.
- Menjual produk ke segmen ekspor untuk tujuan hedging.
- Menjual ke 55 nasabah korporasi dan komersial.
- Bank Danamon telah menjual produk ini sejak lama.
- Sumber dari fee based income sekitar US$ 18juta di 2008.
- Kebanyakan kontrak berakhir di Juli 2009
Masalah:
- Diawali dengan depresiasi Rupiah dan anjloknya harga komoditas.
- Nasabah eksportir tidak dapat melunasi kontrak.
- Bank melepas kontrak dan merestrukturisasi dan bernegosiasi dengan nasabah.
Dampak kerugian derivatif:
- Menambah pencadangan untuk kerugian derivatif sebesar Rp 804miliar di 4Q08.
- Fee based income menjadi menurun.
- Lebih banyak ke bisnis 'plain vanilla': manajemen ingin lebih fokus pada bisnis pinjam-meminjam.
Kondisi di 2009:
- Muncul kabar akan melakukan rights issue namun belum ada komentar dari manajemen mengenai right issue.
- Sub debt yang akan jatuh tempo di Maret 2009 dimana Danamon akan membayar US$ 300 juta sub debt. Sedangkan amortisasi tidak akan memberi pengaruh ke CAR. Bank memperkirakan besar cash yang ada di bulan Maret adalah sekitar US$ 500 miliar.
Pertumbuhan melambat:
- Bank memperkirakan pertumbuhan pinjaman untuk industri sebesar10%.
- Manajemen menargetkan pertumbuhan pinjaman maksimal 8%.
- Didorong oleh bisnis micro lending sementara itu pinjaman korporasi dan komersial diprediksikan akan menurun.











































