Hal ini dikatakan oleh Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik, Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Hariyadi Sukamdani saat ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (22/1/2009).
"Tadi kita bersama pemerintah bicarakan mengenai suku bunga kredit perbankan spread-nya ketinggian," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga minta otoritas bank Indonesia, mungkin pemrintah melalui bank BUMN bisa mempelopori untuk menurunkan atau memperkecil spreadnya antara bunga deposito dengan bunga pinjaman," papar Hariyadi .
Menurut dia situasi suku bunga sekarang masih menyulitkan pelaku usaha untuk melakukan ekspansi. "Karena kalau bunga seperti ini kan repot," imbuhnya.
Sebelumnya Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin Bambang Soesatyo mengatakan skala penurunan suku bunga kredit perbankan belum menjawab kebutuhan dunia usaha. Saat ini suku bank untuk kredit modal kerja dan investasi berada di kisaran terendah 16% hingga maksimal 18%.
"Sebab, sebelumnya suku sudah mendekati 20% akibat mengeringnya likuiditas. Bahkan lembaga pembiayaan menetapkan suku di kisarann 22-24%" kata Bambang.
Artinya, setelah penurunan sebesar 1% itu, posisi suku bunga saat ini masih jauh dari level yang diharapkan dunia usaha. Para pengusaha menghitung, roda bisnis akan berputar normal jika suku bunga kredit modal kerja sebesar 13%.
"Agar suku bunga bank bisa diturunkan lagi, bank sentral harus menurunkan lagi BI rate. Situasinya jelas jauh dari normal karena spread antara BI Rate dengan bunga bank mencapai 8-10%," pungkas Bambang. (dnl/ir)











































