Demikian disampaikan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto kepada detikFinance, Sabtu (24/1/2009).
"Metodologi penetapan kupon (sukuk ritel) sebagaimana selama ini dalam
penetapan kupon ORI, yaitu lebih tinggi dari bunga deposito bank BUMN dan setara dengan yield obligasi negara dengan tenor yang sama," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suku ritel ini sendiri rencananya akan diterbitkan pada 25 Februari 2009, penerbitannya merupakan yang pertama kalinya guna memperluas diversifikasi instrumen pembiayaan defisit anggaran dengan meningkatkan basis investor ritel.
"Acara sosialisasi kemarin malam di Makassar sukses. Hadir sebagai salah satu panelist adalah Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA-Dirjen Bimas Islam yang menjelaskan sukuk merupakan suatu alternatif model pembiayaan yang berpotensi sangat besar untuk berkembang di Indonesia dan bahkan di dunia. Kupon belum ditentukan," pungkasnya.
(dnl/qom)











































