Langkah Fed dan Stimulus Obama Diharap Longgarkan Pasar Kredit

Langkah Fed dan Stimulus Obama Diharap Longgarkan Pasar Kredit

- detikFinance
Jumat, 30 Jan 2009 13:06 WIB
Langkah Fed dan Stimulus Obama Diharap Longgarkan Pasar Kredit
Jakarta - Keputusan Bank Sentral AS (The Fed) yang mempertahankan bunga mendekati nol persen dan paket stimulus fiskal US$ 819 miliar diharapkan segera membantu melonggarkan pasar kredit global.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono di kompleks Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (30/1/2009).

"Kita tunggu saja. Apakah ini akan melonggarkan keketatan kredit global. Kalau itu bisa, dan saya harapkan itu terjadi dalam waktu-waktu yang tidak lama dengan rencana yang dikeluarkan Obama dan sebagainya, diharapkan semuanya menjadi longgar. Arus dana juga mendekati normal lagi dan itu yang terbaik bagi kita semua," urainya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

The Fed kemarin mempertahankan suku bunga di kisaran 0 hingga 0,25 persen. The Fed juga menyatakan akan mempertahankan kisaran bunga rendah ini dalam beberapa waktu ke depan.

"Saya kira suku bunga the Fed itu sudah mencapai batas yang mentok-nya untuk menurunkan lagi. Tapi dia memang sudah mendekati nol. Jadi yang mereka bisa lakukan adalah mempersiapkan secara kuantitatif jumlahnya, bukan harganya lagi," kata Boediono.

Sementara Presiden AS Barack Obama kemarin berhasil mengantongi persetujuan dari DPR AS untuk paket stimulus fiskal US$ 819 miliar.

"Kita harapkan saja berjalan dengan baik stimulus fiskal itu," tambahnya.

Kondisi pasar kredit juga diharapkan semakin membaik dengan rencana pemerintah AS membentuk 'Bad Bank'. Lembaga yang menyerupai Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Indonesia itu diharapkan mampu memperbaiki sektor finansial AS.

"Bad Bank, konsep dimana aset yang buruk akan diambil dari bank ditaruh di suatu tempat yang namanya Bad Bank. Bank yang tersisa yang memiliki aset yang bagus inilah yang diharapkan akan menggulirkan (kredit)," katanya.

Jika kondisi kredit global sudah membaik, maka diharapkan bisa berdampak positif ke Indonesia. "Kalau itu berjalan sangat baik, jadi aliran dana akan kembali ke semua negara termasuk Indonesia," pungkas Boediono.

(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads