"Itu keputusan yang sangat arif dan bijaksana. BI berarti memahami betul bahwa kalau itu dipaksakan mungkin akan banyak bank-bank yang tidak mampu memenuhi tenggat waktu itu dan angka itu. Lebih baik ditunda dulu," kata pengamat perbankan Ryan Kiryanto kepada detikFinance di sela-sela BNI Media Gathering, di Pasar Seni Ancol, Jakarta, Sabtu (31/1/2009).
Bank Indonesia memperpanjang masa transisi penerapan risiko operasional dalam perhitungan kecukupan modal (CAR) perbankan dalam rangka Basel II yang semula 1 Juni 2009 menjadi Januari 2010. BI juga melonggarkan perhitungan ATMR untuk KUKM, mengatur jaringan kantor bank, mempersingkat proses merger
Β
Penundaan Basel II, menurut Ryan sangat tepat karena kondisi perbankan nasional saat ini baru saja seperti terkena tsunami dari krisis finansial di 2008, dimana belum sepenuhnya bisa pulih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, menurutnya, bank lebih baik fokus menyehatkan diri dulu, baru setelah itu memikirkan yang lain misalnya memenuhi Basel 2, IT dan sebagainya.
"Karena salah satu syarat untuk Basel 2 itukan IT tapi untuk investasi IT itu mahal, nggak semua bank bisa. Ibarat pasien belum sepenuhnya bank-bank ini sehat," katanya.
Sementara perpanjangan waktu untuk menerapkan risiko operasional teradap CAR pada 2010-2011 dinilai cukup memberikan waktu untuk bank melakukan persiapan.
"Dua tahun untuk masa persiapan itu cukup waktu, karena pemenuhan modal ada beberapa cara seperti pemegang saham tambah modal, pemilik bank tambah modal, dengan menggunakan investor strategis untuk masuk, rigths issue, IP0. Yang paling sedeharhana merger saja atau kawin. Kan kalau kawin CAR akan terdongkrak. Dengan diundur, maka bank-bank kecil dan menengah bisa menggunakan waktu ini." tuturnya.
Secara nasional rata-rata CAR perbankan saat ini sekitar 16-17 persen. "Tapi kalau dibedah satu-satu ada yang 9,10 persen. Bank-bank skala kecil harus ekstra keras untuk penuhi CAR ini," pungkas Ryan. (ir/ir)











































