Bank Masih Ragu Kucurkan Kredit ke Infrastruktur

Bank Masih Ragu Kucurkan Kredit ke Infrastruktur

- detikFinance
Sabtu, 31 Jan 2009 15:57 WIB
Bank Masih Ragu Kucurkan Kredit ke Infrastruktur
Jakarta - Perbankan nasional masih banyak yang ragu mengucurkan kredit ke infrastruktur. Sektor ini tidak menjadi prioritas karena kerap banyak masalah seperti masalah pembebasan tanah untuk jalan tol.

"Untuk masuk ke infrastruktur, perbankan terkadang jadi ragu. Misalnya untuk masuk pembangunan jalan tol, pembebasan lahannya sulit. Nggak selesai-selesai sehingga bisa masuk kesana," kata pengamat perbankan Ryan Kiryanto di sela-sela BNI Media Gathering, di Pasar Seni Ancol, Jakarta, Sabtu (31/1/2009).

Menurut Ryan, menjadi tugas pemerintah untuk membereskan kendala-kendala yang dihadapi dunia usaha sehingga perbankan siap masuk untuk memberikan kucuran kredit di infrastruktur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jika tidak, sektor infrastruktur cenderung tidak menjadi prioritas. Kalah dibanding manufaktur yang menjadi penyerap utama. Kedua kredit yang paling banyak adalah perdagangan hotel restoran yang lebih prospektif karena kebutuhan yang mendasar," katanya.

Ryan menilai komitmen pemerintah untuk mendorong pembiayaan perbankan ke infrastruktur merupakan cara yang tepat untuk menjalankan roda perekonomian industri. Karena investor dalam dan luar baru akan masuk ke Indonesia jika infrastruktur sudah siap.

"Dengan infrastruktur Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain. Kalau infrastruktur berjalan, akan menyerap lapangan kerja. Dalam road map BKPM infrastruktur termasuk 3 sektor yang akan dikembangkan selain pangan dan energi," tutur Ryan.
Β 
Dia memperkirakan dengan target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 4,5% maka pertumbuhan kredit perbankan bisa minimal 20%. Pertumbuhan kredit tahun ini memang diprediksi lebih kecil dibanding pencapaian 2008 yang di atas 30%.

"Perumbuhan ekonomi sekitar 4,5 persen maka harus disokong dengan pertumbuhan kredit minimal sebesar 20 persen. Itu bisa tercapai asalkan suhu politik tidak terlalu panas karena ini akan berpengaruh pada investor. Kalau terjadi bentrokan maka investor asing tidak mau masuk," katanya.

(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads