Cadangan Devisa 2009 Diprediksi US$ 51 Miliar

Cadangan Devisa 2009 Diprediksi US$ 51 Miliar

- detikFinance
Senin, 02 Feb 2009 15:40 WIB
Cadangan Devisa 2009 Diprediksi US$ 51 Miliar
Jakarta - Cadangan devisa Indonesia hingga akhir tahun 2009 diprediksi mencapai US$ 51 miliar. Jika pemilu lancar dan menghasilkan pemerintahan yang kredibel, dana-dana yang diparkir di luar negeri diharapkan bisa kembali masuk dan memperkuat cadangan devisa Indonesia.

Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia Boediono dalam rapat kerja di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/2/2009).

"Untuk tahun 2009, berdasarkan pengalaman tahun 2004 dengan pengalaman pemilu yang berjalan baik dan terbentuknya kabinet yang kredibel pada kuartal IV akan terjadi aliran dana yang cukup besar. Sebagian besar dana itu adalah dana-dana milik orang-orang kita yang untuk sementara diparkir di luar negeri menunggu kepastian situasi politik di dalam negeri," urainya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan perhitungan kami, cadangan devisa 2009 diperkirakan sebesar US$ 51 miliar, cukup untuk membiayai 4,7 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri pemerintah," tambah Boediono.

Cadangan devisa RI dari bulan ke bulan sepanjang 2008, seperti dikutip dari situs BI adalah:
  • Akhir Desember 2007: US$ 56,920 Miliar
  • Akhir Januari : US$ 55,999 Miliar
  • Akhir Februari :US$ 67,125 Miliar
  • Akhir Maret : US$ 58,987 Miliar
  • Akhir April: US$ 58,770 Miliar
  • Akhir Mei: US$ 57,464 Miliar
  • Akhir Juni: US$ 59,453 Miliar
  • Akhir Juli : US$ 60,563 Miliar
  • Akhir Agustus: US$ 58,358 Miliar
  • Akhir September: US$ 57,108 Miliar.
  • Akhir Oktober: US$ 50,580 Miliar.
  • Akhir November US$ 50,181 Miliar.

BI juga memperkirakan neraca transaksi berjalan pada tahun 2009 akan defisit hingga 0,11% PDB. Namun Boediono menjelaskan, walaupun ekspor diperkirakan turun tajam pada tahun ini, melemahnya perekonomian akan menyebabkan impor barang konsumsi dan investasi mengalami penurunan tajam. Apalagi ekspor Indonesia juga mempunyai kandungan impor yang cukup tinggi.

Selain itu, penurunan kegiatan transportasi seiring anjloknya ekspor akan juga mengurangi impor jasa-jasa untuk transportasi.

"Faktor-faktor ini menjadikan kita tidak perlu khawatir akan neraca pembayaran kita. Bahkan apabila perekonomian domestik melemah, anjloknya impor dapat berpotensi menyebabkan kembalinya surplus transaksi berjalan," pungkas Boediono.
(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads