Demikian disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom yang ditemui disela-sela Festival Ekonomi Syariah di Jakarta Convention Center, Rabu (4/2/2009).
"Penurunan suku bunga untuk mendorong kredit dan perekonomian maka kami pangkas 50 basis poin dan menggambarkan keyakinan BI bahwa untuk mendukung pertumbuhan yang kita harapkan 4,5%, baik otoritas moneter maupun otoritas kita harus bekerja sama," urainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maka BI menganggap bahwa kita perlu memberikan sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi perlu didorong oleh suatu koordinasi yang baik, dimana peranan BI adalah penurunan suku bunga. BI memahami apa, kebijakan yang diperlukan pada saat kondisi seperti ini," tambah Miranda.
Dengan demikian, BI berharap penurunan BI Rate ini bisa menjadi sinyal bagi perbankan agar memberikan kredit lebih banyak. "Kami ingin menghimbau perbankan," tegasnya.
Untuk ke depannya, kata Miranda, penurunan BI Rate masih terbuka lebar jika memang inflasi semakin terkendali dan di tengah perekonomian global yang belum pulih.
"Kalau bulan depan menunjukkan tanda-tanda inflasi semakin berkurang dan perekonomian dunia masih belum pasti, kami masih membuka ruang bagi penurunan suku bunga. Tapi berapa-berapanyanya belum bisa kita tentukan," katanya.
Miranda juga menegaskan, pergerakan suku bunga kini sudah tidak terlalu mempengaruhi rupiah. Menurutnya, pergerakan rupiah lebih disebabkan karena likuiditas dunia yang memang sedang kering.
"Pelemahan rupiah lebih banyak disebabkan oleh ketidakpastian kondisi dunia. Pergerakan rupiah sudah tidak lagi bergantung pada suku bunga. Tapi lebih dipengaruhi likuiditas dunia yang memang kering, terutama dolar. Ini terjadi dimana-mana bukan hanya di Indonesia," pungkasnya.
Pada sesi siang ini, nilai tukar rupiah masih terkulai di 11.680 per dolar AS. Rupiah sempat mendekati 12.000 per dolar AS pada awal pekan ini.
(qom/ir)











































