Posisi BI rate yang kini 8,25% masih jauh dari ekspektasi atau harapan dunia usaha. Hal ini dikatakan oleh Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin Indonesia Bambang Soesatyo kepada detikFinance, Kamis (5/2/2009).
"Dengan segudang masalah yang masih menyelimuti sektor keuangan global sekarang ini, BI Rate mestinya sudah di bawah 8%. Idealnya BI sekarang ini 7,5%," katanya.
Bambang mengatakan masih ada persoalan lagi yang dipertanyakan dengan penurunan BI Rate yang dilakukan. "Apa jaminan dari BI bahwa penurunan BI Rate kali ini segera bertransmisi ke penurunan suku bunga bank, utamanya kredit modal kerja dan investasi? Sebab, turunnya suku bunga bank yang paling ditunggu dunia usaha. Diharapkan suku bunga bank segera turun ke level 10 hingga 12%," tuturnya.
Saat ini, suku bunga bank untuk kredit modal kerja dan investasi berada di kisaran terendah 16% hingga maksimal 18%. Lembaga pembiayaan menetapkan suku bunga di kisaran 22% sampai 24%.
"Potensi menurunkan BI Rate hingga ke level 7,5% masih terbuka. Apalagi, tekanan terhadap laju inflasi terus menurun dalam beberapa bulan ke depan," ujarnya.
Saat ini untuk menurunkan suku bunga, perbankan menghadapi tantangan masalah berupa likuiditas yang masih kering dan asumsi tentang tingginya risiko bisnis di dalam negeri.
"Selain itu, seperti halnya dunia usaha, perbankan juga masih menunggu progres dari implementasi stimulus fiskal dan prospek penyerapan APBN 2009," jelasnya.
Maka, agar penurunan BI Rate kali ini efektif menurunkan suku bunga bank, BI hendaknya membantu perbankan mengatasi keringnya likuiditas. Misalnya dengan memberi jaminan pinjaman antarbank.
"Perlu juga BI berkoordinasi dengan Menko perekonomian untuk memuluskan implementasi stimulus fiskal dan penyerapan anggaran yang tepat waktu dan tepat sasaran guna memperbaiki persepsi bank tentang risiko bisnis," paparnya.
Dikatakan Bambang, Kadin mengapresiasi upaya BI menurunkan BI Rate dan memperkuat fungsi intermediasi perbankan melalui relaksasi regulasi.
Namun, semua langkah ini tidak akan membuahkan hasil maksimal, jika BI tidak segera mengatasi kekeringan likuiditas.
"Kita berharap BI berupaya menerobos kebuntuan arus kredit sekarang ini. Selain mendorong perbankan menurunkan suku bunga kredit modal kerja dan investasi, BI masih perlu melonggarkan lagi GWM dan menjamin pinjaman antarbank," ujarnya.
Menurut Bambang Indonesia berpeluang untuk membangun pertumbuhan ekonomi yang bermutu dengan syarat suku bunga turun ke level yang moderat. Dan, implementasi stimulus fiskal harus nyata hasilnya.
"Hasil stimulus fiskal harus tercermin pada turunnya tarif transportasi dan harga barang. Penurunan tarif transportasi dan harga barang akan menguatkan daya beli rakyat serta memperbesar permintaan," pungkasnya. (dnl/ir)











































