Â
Hal ini dikatakan oleh Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo usai acara peluncuran Kartu Pembiayaan Syariah BNI di JCC, Senayan, Jakarta, Sabtu (7/2/2009).
"Ada PBI baru untuk membentuk bank baru kan cukup modal Rp 500 juta, sehingga kita akan spin off dulu baru mereka (investor) masuk," ujarnya.
Â
Sebelumnya BNI sendiri sudah memiliki komitmen dari investor asing dari Timur Tengah yaitu anak usaha Islamic Development Bank (IDB) yakni Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD). Sebenarnya rencana ini sudah dilakukan sejak 2008, namun terus mundur, karena itu dengan aturan baru ini , BNI akan mempercepat pelaksanaan spin off unit syariahnya.
"Kita agree dia (ICD) mayoritas. Jadi porsi ICD 60% dan BNI 40%. Itu kan dilihat dari ekuitas kita yg Rp 300 miliar, tapi di samping itu kita ada transaksi antar kantor yang bisa anytime convert ke ekuitas sudah Rp 500-600 miliar, nanti tinggal lihat mau berapa," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bertahap US$ 250 juta dulu, untuk tiga tahun lihat perkembangan baru masukkin lagi. Jadi BNI 40% dari US$ 250 juta," ujarnya.
Saat ini untuk spin off unit syariahnya, BNI sedang meminta izin kepada para pemegang saham yang nantinya akan diajukan pada RUPS. "Tidak jadi masalah kita minoritas, dia (ICD) kan ke sini sebagai investor bawa uang, yang tahu pasar RI adalah kita. Kalau kita mayoritas kita harus setor lebih banyak," jelasnya.
Â
Aset unit syariah BNI saat ini nilainya mencapai Rp 4 triliun. Gatot mengatakan total aset sebesar itu sudah mencapai target perseroan di 2008.
Â
(dnl/dnl)











































