Angka ini mengalami kenaikan dari tahun 2008 lalu yang ditargetkan mencapai Rp 68,4 triliun dengan realisasi Rp 61,75 triliun.
Untuk investasi di 2009, tertinggi masih didominasi oleh instrumen obligasi senilai Rp 36,4 triliun atau 50,13%, deposito senilai Rp 21,3 triliun atau 29,29%, saham 10,7 triliun atau 14,81%, reksadana Rp 2,63 triliun atau 3,63%, properti Rp 824,3 miliar atau 1,13% dan penyertaan modal sebesar Rp 739,8 miliar atau 1,02%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Hotbonar, untuk investasi tahun 2009 ini pihaknya menerapkan strategi khusus untuk deposito dalam jangka waktu 6 sampai 24 bulan yang akan ditempatkan di bank-bank pemerintah pusat-daerah dan membatasi deposito di bank swasta yang aset dan modalnya kecil.
"Investasi obligasi sebagian pada obligasi pemerintah yang diperkirakan memberikan yield (imbal hasil) 10% sampai 14%, untuk portofolio jangka panjang," jelasnya.
Sedangkan untuk portofolio saham, Hotbonar mengatakan pihaknya akan melakukan pemilihan yang lebih selektif dengan memperhatikan fundamental yang kuat, saham yang kuat terhadap volatilitas pasar global dan lain-lain.
Berdasarkan prognosa laporan keuangan tahun 2008, laba Jamsostek mencapai Rp 937 miliar, dan terdapat potensi rugi untuk efek available for sale (AFS) saham sebesar Rp 2,04 triliun.
"Potensi rugi efek itu diharapkan bisa mengalami perbaikan, dan tidak akan mempengaruhi laba rugi perusahaan sebelum efek tersebut belum direalisasikan penjualannya," tukas pria berkacamata ini.
(hen/dnl)











































