Menurut ekonom Aviliani, pada kuartal satu hingga kuarta ketiga 2008 terjadi perputaran uang yang didominasi hot money. Namun perputaran uang itu mereda mulai September 2008 ketika terjadi krisis.
"2008 memang kondisinya nggak normal. Pada Januari hingga Agustus, dana yang masuk lebih banyak hot money. Namun sejak September sampai sekarang sudah kembali ke normal karena krisis," katanya ketika dihubungi detikFinance, Selasa (10/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertumbuhan dana pihak ketiga pada 2009 diperkirakan tumbuh sekitar 15% atau tidak sebesar pada 2008. Pada 2008, DPK tumbuh 18% menjadi 1.140,078 triliun dibanding tahun 2007 yang sebesar Rp 969,264 triliun.
Namun di 2009 pertumbuhan DPK tertahan karena selain masyarakat berniat mulai membelanjakan uangnya lagi, produk perbankan menjadi kurang menarik dibandingkan surat berharga yang diterbitkan pemerintah.
"Pemerintah kan menerbitkan Sukuk dengan bunga yang besar. Tentu orang lebih suka beli itu ketimbang yang dari perbankan. Deposito juga sekarang bunganya tidak terlalu besar," katanya.
Ia pun mengusulkan, agar pemerintah sebaiknya menjual surat berharga negara (SBN) ke Bank Indonesia saja. Sehingga pemerintah tetap mendapat uang dari penjualan SBN, dan perbankan tetap bisa kompetitif menarik dana dari masyarakat.
(lih/ir)











































