Β
Hal ini dikatakan oleh Chief Economist Bank Mandiri Group Mirza Adityaswara dalam acara Seminar Nasional Mempercepat Pembangunan Infrastruktur Di Era Krisis Keuangan Global, di Hotel Nikko, Jakarta, Selasa (10/2/2009).
Β
"Saat ini perbankan secara global memperketat persyaratan kredit sehingga pertumbuhan ekonomi semakin tertekan. Jadi keinginan perbankan untuk mengucurkan kredit sangat rendah," tuturnya.
Β
Di dalam negeri sendiri, modal perbankan terlihat menurun. Mirza mengatakan di 2007 rasio kecukupan modal atau CAR beberapa bank besar mencapai di atas 20%, sedangkan sekarang sudah di bawah 20%.
CAR bank umum dan bank BUMN hingga akhir Desember 2008 terus turun dan berada di posisi terendah sejak 5 tahun terakhir. Berdasarkan data BI, CAR bank umum hingga akhir Desember 2008 tercatat hanya 16,76%, sementara bank BUMN hanya 14,31%
Β
"Di saat krisis bank cenderung berhemat, jadi kalau untuk pembiayaan proyek, bank akan cermat memilih proyek-proyek yang akan dibiayai," imbuhnya.
Β
Mirza mengatakan walaupun penurunan BI Rate sudah sampai 8,25%, namun kredit ternyata masih sulit didorong.
Β
"BI Rate sekarang 8,25%, dengan kecenderungan penurunan inflasi, ada ruang penurunan BI Rate ke 7 sampai 7,5%, jika inflasi bisa turun ke 6% dan rupiah stabil," tuturnya.
Β
Sementara untuk pembiayaan, saat ini memang sulit mendapatkannya apalagi akan terjadi kompetisi dana di pasar obligasi pada 2009-2010. Di 2009 saja dikatakan Mirza akan ada obligasi yang jatuh tempo di dalam negeri senilai Rp 53,465 triliun, terdiri dari obligasi pemerintah Rp 40 triliun dan obligasi korporasi Rp 12,839 triliun.
Β
"Mungkin pemerintah bisa mendapatkan kesempatan lewat obligasi global, seperti Filipina yang obligasi globalnya oversubscribe, mereka butuh US$ 1 miliar tapi penawaran yang masuk sampai US$ 6 miliar," pungkasnya.
(dnl/qom)











































