"Untuk survive maka ekspansi harus ditahan (direm), tidak boleh agresif, karena saat ini untuk mendapatkan premi sangat berat maka ditunggu sampai dengan situasi membaik," kata Vice President Director PT Asuransi Himalaya PelindungΒ Budi Hartono Purnomo.
Hal itu diungkapkan Budi disela-sela acara journalist workshop Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Ciloto, Jawa Barat, Sabtu (14/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk bertahan dari krisis menurut Budi, perusahaan asuransi harus mencari jalan keluar. Tapi menurunkan premi di bawah rata-rata dinilainya bukan merupakan jalan keluar.
"Karena potensi perusahaan asuransi menjadi bangkrut karena menurunkan premi tanpa menjaga cadangan klaimnya. Selanjutnya perusahaan asuransi yang bangkrut juga karena reasuransinya diabaikan," katanya.
Bisnis asuransi lanjut Budi, sebenarnya tergantung indikasi ekonomi suatu negara. Kalau ekonomi suatu negara berjalan baik maka industri akan baik. Sebaliknya, industri asuransi akan stagnan bila di ekonomi khususnya sektor riil dan komersial mengalami problem.
Namun bisnis asuransi jika dikelola baik manajemennya masih bisa survive walaupun indikasi ekonomi baik sektor riil dan komersial menurun.
"Asuransi bagai kapal yang diterjang badai, nakhoda kapal harus beristirahat dari melaut namun tidak diam saja, membenahi kapal sehingga bila badai sudah reda maka nakhoda akan berlayar kembali," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Direktur Treasury II, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, Kasmin Pasaribu yang mengatakan bisnis asuransi di 2009 cenderung bergerak ditempat.
"Dengan menahan ekspansi, perusahaan asuransi akan memperbaiki dulu sektor internal, dengan melakukan inovasi diberbagai aspek internal perusahaan dan menyiapkan strategi sambil menunggu badai krisis lega," ujar Kasmin.
Dia menilai, bisnis asuransi akan cenderung membaik di semester kedua tahun 2009. Pergerakan industri tahun ini juga akan melihat laporan keuangan tahun sebelumnya, karena bisnis asuransi memakai acuan dari laporan keuangan sebelumnya.
"Jadi kalau laporan keuangan 2009 baik dan mengalami pertumbuhan maka di 2010 prospek asuransi akan baik," katanya.
Asuransi juga akan melihat beberapa faktor ekonomi lain seperti ekspor, impor dan saving yang merupakan obyek asuransi. "Bila ketiga hal tersebut baik maka asuransi pun ikut baik," pungkas Kasmin. (ir/ir)











































