Demikian disampaikan Direktur Keuangan CIMB Niaga Thila Nadason usai paparan kinerja di Graha Niaga, Jakarta, Selasa (17/2/2009).
"Sebenarnya laba bersih masih tumbuh cukup baik. Namun karena adanya biaya merger kerugian dari pasar modal dan provisi yang kira-kira Rp 1,788 triliun. Itu menyebabkan laba bersih anjlok tajam," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kerugian produk pasar modal itu akibat turunnya harga produk obligasi pemerintah dimana kita banyak menanam di sana. Sedangkan untuk provisi terdiri potensi kerugian derivatif Rp 400 miliar kemudian potensi kerugian Indover Rp 55 miliar dan sisanya Rp 718 miliar adalah pencadangan kredit," katanya.
Akibat adanya biaya merger dan kerugian lainnya itu, perseroan hanya membukukan laba bersih 2008 sebesar Rp 678 miliar. Anjlok Rp 55,04% dari 2007 yang sebesar Rp 1,508 triliun.
Sementara Presdir CIMB Niaga Arwin Rasyid menjelaskan, jika biaya yang dicadangkan tersebut tidak menjadi kerugian, maka laba bersih 2009 dipastikan akan tumbuh signifikan.
"Kalau tidak ada biaya tadi dipastikan kita masih tumbuh bagus. Jadi sebenarnya ini hanya terjadi di 2008 saja. Jika pencadangan tersebut tidak menjadi kerugian, maka laba bersih 2009 dipastikan signifikan," katanya.
(lih/qom)











































