Posisi cadangan devisa tersebut meningkat sebanyak US$ 190 juta jika dibandingkan posisi Januari yang mencapai masih berada di posisi US$ 50,87 miliar.
Demikian dikatakan oleh Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Made Sukada di sela-sela acara workshop Wartawan Ekonomi dan Perbankan, Savoy Homann, Bandung, Sabtu (28/2/2009).
"Posisi cadangan devisa kita ini cukup kuat, siapa yang berani melawan. Sehingga persepsi krisis likuiditas itu probabilitasnya close to zero persen," katanya.
Maka dari itu, ia mengatakan masyarakat tidak perlu meragukan kemampuan BI menjaga volatilitas rupiah tetap stabil melalui intervensi, karena bisa dilakukan setiap saat ketika kekurangan dana.
Walau beban utang luar negeri baik pemerintah maupun swasta masih menjadi tekanan bagi cadangan devisa, ia menambahkan, hingga saat ini beban utangnya masih berada di batas yang aman.
Posisi cadangan devisa itu mencukupi untuk 4,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Rasio tersebut lebih rendah dibandingkan posisi Januari.
Pada bulan pertama 2009 tersebut, porsi cadangan devisa lebih kecil namun setara dengan 5,2 bulan impor dan utang luar negeri. Menurutnya, hal tersebut diakibatkan beban utang luar negeri yang meningkat hanya dalam waktu satu bulan.
(ang/ir)











































