Gali Lubang Tutup Lubang Obligasi, RI Bisa Kena 'Siklus Argentina'

Gali Lubang Tutup Lubang Obligasi, RI Bisa Kena 'Siklus Argentina'

- detikFinance
Senin, 02 Mar 2009 11:18 WIB
Gali Lubang Tutup Lubang Obligasi, RI Bisa Kena Siklus Argentina
Jakarta - Yield (imbal hasil) dari GMTN (Global MTN) yang diterbitkan pemerintah dinilai kemahalan dan itu akan menjadi benchmark baru di pasar modal. Penerbitan obligasi yang terus menerus untuk gali lubang tutup lubang bisa membuat Indonesia terkena "Siklus Argentina".

Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo mengatakan, efek jangka pendek dari penerbitan GMTN yang kemahalan tersebut antara lain:

Pertama: Menaikkan cost of fund secara signifikan bagi swasta yang memerlukan pembiayaan melalui obligasi. Yield obligasi korporasi itu selalu lebih tinggi dari obligasi negara, sementara yield obligasi rupiah juga lebih mahal dari obligasi US$.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau obligasi negara yang dolar AS saja sudah 11.75%, bisa dibayangkan seberapa mahal nantinya obligasi korporasi dalam rupiah. Swasta akan makin sulit mendapat dana," ujarnya kepada detikFinance, Senin (2/3/2009).

Kedua: Perbankan nasional terdorong menaikkan bunga simpanan supaya dana tidak semakin lari ke obligasi negara. Investasi di obligasi negara itu bukan hanya yield-nya lebih tinggi, tapi juga dijamin 100% oleh negara. Simpanan di bank
hanya dijamin hingga Rp 2 miliar.

Ketiga: Bunga pinjaman bank semakin mahal, bisa mencapai 15-16% lebih sebagai akibat naiknya bunga simpanan. Sektor riil yang butuh dana kredit akan semakin tercekik.

"Jadi sekali lagi, jangan remehkan disiplin fiskal. Jangan karena tahun Pemilu, lalu disiplin fiskal dikorbankan. Semua bonds itu akan dibayar melalui APBN, Setiap tahun jumlah bonds yang harus diterbitkan semakin besar untuk menutup pembayaran pokok dan bunga bonds yang diterbitkan sebelumnya," tutur Dradjad.

Dradjad mencontohkan, pada tahun 2002 Indonesia hanya terbitkan obligasi Rp 2 triliun. Lalu naik ke Rp 11,5 triliun, Rp 34 triliun dan seterusnya hingga sekarang sudah Rp 130-150 triliun dalam setahun.

"Ini adalah efek jangka panjang yang disebut "Siklus Argentina" di mana pembayaran pokok dan bunga obligasi ditutup dengan penjualan obligasi baru. Pada titik tertentu, pasar tidak mau lagi membeli obligasi yang baru, yang lalu memicu krisis fiskal. Ini terjadi Argentina tahun 2002. Apakah Indonesia akan alami hal yang sama? Bisa saja," pungkasnya.

Sementara itu, Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto kepada detikFinance mengatakan, yield GMTN yang diterbitkan pemerintah mencerminkan kondisi objektif pasar obligasi global saat ini dimana telah terjadi repricing of risk.

"Tapi dilihat dari jumlah book order US$ 7,25 miliar dengan 420 order (2,4 kali oversubscription), maka investor confidence terhadap Indonesia masih tinggi. Tambahan utang valas sebesar US$ 3miliar akan memperkuat cadangan devisa kita sehingga akan menambah market confidence, khususnya terhadap stabilitas nilai tukar rupiah," papar Rahmat.

Rahmat menambahkan bahwa pada perdagangan hari pertama di pasar sekunder kedua seri global bond sudah ditransaksikan di atas PAR. "Ini menunjukkan bahwa pricing dilakukan secara cermat," pungkasnya.



(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads