Perbankan Minta BI Rate Tetap 8,25%

Perbankan Minta BI Rate Tetap 8,25%

- detikFinance
Senin, 02 Mar 2009 15:20 WIB
Perbankan Minta BI Rate Tetap 8,25%
Jakarta - Kalangan industri perbankan nasional menilai tingkat suku bunga acuan alias BI Rate yang saat ini sebesar 8,25 persen tidak perlu diturunkan lagi.

Menurut Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sofyan Basir, posisi BI Rate saat ini sudah cukup. Bahkan industri perbankan sendiri belum mengikuti penurunan yang sebelumnya.

"Saya pikir dalam kondisi sekarang sudah oke. Karena pasarnya belum mengikuti. Menurut saya BI rate belum perlu turun," katanya di sela-sela acara World Islamic Economic Forum di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD Sudirman, Jakarta, Senin (2/3/2009).

Hal yang sama diungkapkan oleh Presiden Direktur CIMB Niaga Arwin Rasyid di tempat yang sama. Menurutnya, jika BI Rate terlalu rendah maka real rate of interest-nya bisa negatif.

"Turunnya BI Rate belum tentu menurunkan suku bunga. Karena itu tergantung dr kondisi likuiditas dan biaya dana itu sendiri. Saat ini masih banyak bank yang menawarkan bunga deposito yang tinggi," katanya.

Ia mengatakan kalau pun BI Rate jadi diturunkan maka jangan sampai real rate interest return-nya negatif. Kalau itu terjadi, artinya tidak ada insentif dari bunga yang dikenakan karena inflasi lebih tinggi dari tingkat suku bunga acuan.

Ia mengharapkan, industri perbankan saat ini bisa lebih cepat menyesuaikan suku bunga mereka dengan BI rate saat ini karena bisa mendorong pertumbuhan sektor riil.

"Kalau sektor riil tumbuh maka ekonomi juga kan tumbuh," imbuhnya.

Sementara itu, ada juga beberapa pihak industri perbankan yang mengharapkan Bi Rate bisa turun lagi. Salah satunya, PT Bank Mandiri Tbk, menurut Direktur Internasional Mandiri Thomas Arifin jika memang BI Rate bisa diturunkan maka akan lebih baik lagi.

"Ya kalau turun lagi ya lebih baik. Tapi penurunan suku bunga pinjamannya semua tergantung dari bagaimana suku bunga deposito di market," katanya.

Ia mengatakan, terkait dengan penurunan suku bunga industri yang masih lambat, terlebih dahulu harus menurunkan bunga depositonya.

"Tentu para deposan tidak menginginkan bunga yang tinggi jadi tentunya yang bisa ditekan adalah bunga pinjaman," katanya. (ang/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads