"Menjual bond tidak ada istilah kita kasih yield lebih tinggi karena itu pertemuan antara supply dan demand. Demand hanya mau beli dengan return yang bisa diterima, dalam pasar obligasi seperti ini," tegas Sri Mulyani di Gedung DPD, Jakarta, Rabu (4/3/2009).
Menurut Sri Mulyani, perkembangan pasar obligasi memang sangat cepat dengan perubahan sehari bisa mencapai 100 basis poin. Pasar obligasi sangat rentan terhadap berbagai perkembangan isu. Misalnya ekspor Jepang turun yang menimbulkan kekhawatiran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri Mulyani menambahkan, investor di dunia saat ini tinggal sedikit. Aset-aset perusahaan finansial pun terus tergerus. Misalnya Citibank yang dulu memiliki aset US$ 200 miliar sekarang tinggal US$ 20 miliar.
"Dunia kehilangan modal sangat banyak. Dalam hal jumlah ketersediaan modal, di pasar internasional ke negara berkembang sebelum krisis pada 2007 dan 2008 US$ 600 miliar, sekarang tinggal US$ 160 miliar. Ini berarti drop supply capital hingga US$ 400 miliar," katanya lagi.
Ia juga menambahkan, meski kondisi pasar finansial sedang tidak sehat, namun Indonesia masih membutuhkan dana untuk membangun. Karenanya, obligasi global US$ 3 miliar pun diterbitkan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan.
"Kita kan tidak bisa berhenti membangun dengan adanya modal dunia yang anjlok dan publik kan harus berjalan. Konsekuensinya ada risiko dan biaya karena itu kita kombinasikan antara risiko dan biaya," pungkas Menkeu.
(qom/ir)










































