Meski belum serempak, ada beberapa perusahaan pembiayaan yang sudah memangkas uang mukanya 5%hingga 10% dari besaran sebelumnya.
Hal ini disampaikan oleh Sekjen Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Dennis Firmansyah saat berbincang pagi dengan detikFinance, Kamis (5/3/2009).
"Belum merata ada yang sudah (turun) ada yang belum, tegantung likuiditas masing-masing perusahaan besarannya 5% sampai 10%, sudah terjadi sejak akhir bulan kemarin," katanya.
Ia menjelaskan dengan adanya penurunan tersebut, maka uang muka yang sebelumnya sempat mencapai 30% dari harga kendaraan, sekarang ini hanya 25% sampai 20%. Bahkan kata dia, sekarang ini para dealer pun mencoba memposisikan peran sebagai yang menalangi pembiayaan jika tenor kreditnya jangka pendek, sedangkan tenor jangka panjang diserahkan ke perusahaan pembiayaan murni.
"Sekarang ini ada kecenderungan selama 2 bulan terakhir, biasanya pembelian kredit 80% sampai 85%, sekarangnya justru hanya 70% sisanya lebih banyak cash," katanya.
Bunga Kredit Berpeluang Turun
Soal penurunan kredit pembiayaan, menyusul adanya penurunan BI Rate hingga ke angka 7,75% ia mengatakan bahwa selama ini perusahaan pembiayaan hanya mengikuti lending rate kredit yang diberikan perbankan. Jika perbankan belum menurunkan maka perusahaan pembiayaan tidak akan menurunkan besaran kredit kendaraan bermotor.
Dennis menjelaskan selama ini pola penurunan kredit di tingkat perbankan biasanya akan terjadi sekitar 3 bulan setelah penurunan BI rate. Selanjutnya, perusahaan pembiayaan akan ikut menurunkan bunga kreditnya.
"Paling sekarang ini bisa turun 1%, kalau bank bisa turun 3% maka kita bisa 2%," imbuhnya.
Saat ini kata dia, besaran bunga kredit untuk kendaraan roda empat masih mencapai 21%, sedangkan untuk roda dua masih berada di kisaran 30% sampai 32% efektif rate.
"Sekarang pembiayaan yang bisa dapat besaran kredit dari bank 15% sampai 18%, kalau yang dapat 18% bisa mengenakan kredit 21%, kalau yang dapat dari banka 16% bisa kasih bunga 19%," jelasnya.
Selama ini, lanjut Dennis, besaran pembiayaan untuk roda dua dan roda empat rata-rata pertahunnya mencapai Rp 80 triliun sampai Rp 90 triliun atau dengan rata-rata Rp 7 triliun per bulan. Ia menambahkan jika terjadi proyeksi penurunan hingga 20% maka rata-rata pembiayaan hanya mencapai Rp 5 triliun sampai Rp 6 triliun.
(hen/lih)











































