Demikian dikatakan oleh Direktur Pembiayaan Syariah Dahlan Siamat ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (6/3/2009).
"Underlying asset yang ada sekarang kurang lebihkan masih ada Rp 7 triliun. Tapi berarti tidak semuanya kita terbitkan, tergantung pasar, maksimal nilai underlying asset itu," tuturnya.
Dahlan mengatakan pemerintah tidak pernah menyebutkan angka pasti dalam rencana penerbitan sukuk global tersebut.
"Pokoknya kita sama sekali belum ada angka. Untuk penerbitannya kita masih dalam kondisi melihat pasar. Kalau memang pasarnya baik kemungkinan joint lead manager akan mengeksekusi," katanya.
Pada tahun ini untuk penerbitan sukuk baik domestik maupun internasional, pemerintah memang telah menyiapkan underlying asset sebesar Rp 13 triliun. Sebesar Rp 6 triliun diantaranya sudah digunakan untuk penerbitan sukuk ritel, sehingga ada sisa Rp 7 triliun.
"Sukuk tidak bisa lepas dari undelying asset karena ini ijarah, sale and lease back. Umumnya investor institusi," ujarnya.
Sementara untuk yield sukuk global ini, Dahlan mengatakan yield dalam penerbitan sukuk global akan mengacu pada yield GMTN (Global Medium Term Notes).
"Benchmark yang ada sekarang mengacu kepada GMTN, jadi itu benchmark yield-nya, tidak akan terlalu tinggi dari itu," tukasnya. (dnl/lih)











































