Hal ini dikatakan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto kepada detikFinance, Sabtu (7/3/2009).
"Nilainya sekitar US$ 500 juta, tapi bisa di upsize (ditambah) sampai dengan jumlah underlying asset yang saat ini tersedia Rp 8 triliun, jika permintaan ada dengan harga yang sesuai," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah juga sebelumnya telah menunjuk 3 joint lead managers untuk penerbitan sukuk global ini yaitu Barclays, Standard Chartered Bank dan HSBC.
Sebelumnya Direktur Pembiayaan Syariah Depkeu Dahlan Siamat mengatakan pemerintah akan melihat kondisi pasar dalam penerbitan sukuk global ini.
"Untuk penerbitannya kita masih dalam kondisi melihat pasar. Kalau memang pasarnya baik kemungkinan joint lead manager akan mengeksekusi," kata Dahlan.
Sementara untuk yield sukuk global ini, Dahlan mengatakan yield dalam penerbitan sukuk global akan mengacu pada yield GMTN (Global Medium Term Notes).
"Benchmark yang ada sekarang mengacu kepada GMTN, jadi itu benchmark yield-nya, tidak akan terlalu tinggi dari itu," pungkasnya.
(dnl/qom)











































