Penurunan DPK tersebut khususnya terjadi di giro dan tabungan rupiah sebagai cermin menurunnya kegiatan transaksi seiring dengan melemahnya perekonomian.
Demikian ulasan tinjauan kebijakan moneter BI per Maret 2009 yang dikutip, Rabu (11/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertumbuhan kredit menunjukkan tren yang melambat yang disebabkan baik oleh sisi permintaan dan penawaran.
Dari sisi permintaan menurunnya aktivitas perekonomian doemstik yang disertai dengan masih tingginya suku bunga kredit menyebabkan melambatnya permintaan akan kredit.
Dari sisi penawaran, menurunnya pertumbuhan kredit juga diakibatkan oleh melambatnya suplai kredit perbankan terkait dengan masih tingginya risiko di dunia usaha yang tercermin oleh meningkatnya NPL.
Melambatnya pertumbuhan kredit (secara tahunan) terutama terjadi pada kredit investasi dan kredit konsumsi. Sementara itu, posisi kredit modal kerja justru meningkat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yaitu dari 28,4% (YoY) menjadi 29,2% (YoY).
Sejalan dengan aktivitas perekonomian yang melambat, likuiditas perekonomian pada Januari 2009 menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Penurunan likuiditas perekonomian itu juga searah dengan pola musimannya yang cenderung turun di awal tahun. Pada Januari 2009, M1 dan M2 turun masing-masing sebesar Rp 18,9 triliun dan Rp 24 triliun.
Namun demikian, apabila dilihat secara tahunan (yoy) M1 dan M2 pada Januari 2009 mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi daripada bulan sebelumnya. M1 an M2 masing-masing tumbuh sebesar 6,5% (yoy) dan 17,1% (yoy) lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar masing-masing sebesar 1,2% (yoy) dan 14,6% (yoy).
Sementara itu, dengan kondisi inflasi yang menurun, yaitu dari 11,06% pada Desember 2008 menjadi 9,17% pada Januari 2009, maka secara riil pertumbuhan M1 dan M2 masing-masing mencapai -2,7% (yoy) dan 7,9% (yoy), meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai -9.9% (yoy) dan 3,6% (yoy).
Pertumbuhan M1 nominal membaik. Hal tersebut mengindikasikan rendahnya risiko inflasi dari sisi uang beredar. Pertumbuhan M1 nominal juga merupakan indikator penuntun (leading indicator) perkembangan inflasi ke depan. Gambaran pekembangan M1 menunjukkan risiko inflasi 18 bulan ke depan masih cenderung menurun. Kondisi itu juga didukung oleh indikator excess money1 yang menunjukkan bahwa inflasi hingga 7
triwulan ke depan masih akan menurun.
Meskipun risiko potensi tekan inflasi ke depan diperkirakan relatif kecil, perkembangan likuiditas ke depan tetap perlu dicermati dalam formulasi kebijakan.
Secara level, hampir seluruh komponen M2, kecuali deposito, mengalami penurunan. Penurunan terjadi terutama pada uang kartal dan tabungan masyarakat. Selain itu, meskipun rekening giral terkait Pemerintah, khususnya Pemerintah DATI I dan II masih menunjukkan peningkatan sebesar 45,7% (yoy), menurunnya simpanan giral sektor swasta yang mencapai 10,3% (yoy) berdampak pada menurunnya simpanan giral secara total.
(ir/qom)











































