Pinjaman Luar Negeri Berisiko Lebih Kecil Ketimbang Obligasi

Pinjaman Luar Negeri Berisiko Lebih Kecil Ketimbang Obligasi

- detikFinance
Rabu, 11 Mar 2009 14:35 WIB
Pinjaman Luar Negeri Berisiko Lebih Kecil Ketimbang Obligasi
Jakarta - Indonesia dinilai lebih baik mencari pinjaman luar negeri ketimbang menerbitkan obligasi kembali, baik itu global bond maupun sukuk. Karena pinjaman luar negeri berisiko lebih kecil ketimbang obligasi.

Demikian dikemukakan oleh Managing Director Head of Asia Pacific Economic and Market Analysis Citigroup Johanna Chua di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (11/3/2009)

"Indonesia sebaiknya mencari sumber pendanaan lain selain penerbitan obligasi, seperti pinjaman World Bank atau IMF," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, jika Indonesia kembali menerbitkan obligasi, maka penyerapan pasar tidak akan maksimal. Apalagi jika kondisi krisis ekonomi makin memburuk.

Indonesia juga, menurutnya, belum memakai tawaran yang diberikan IMF sebanyak US$ 15,2 miliar. Dana ini bisa dimanfaatkan untuk menjadi sumber pendanaan jangka pendek. Ia menambahkan, resiko yang bisa terjadi dari pinjaman luar negeri lebih kecil daripada obligasi.

Menurutnya, pemulihan krisis ekonomi global baru akan terjadi di kuartal pertama tahun 2010, itu pun pemulihannya masih dangkal. Masih membutuhkan waktu yang cukup lama supaya semuanya berjalan normal kembali.

Tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia ia perkirakan masih akan berada di tingkat 3-4,5 persen. Ia juga menilai inflasi Indonesia masih akan turun hingga penghujung tahun 2009, maka dari itu ia merasa BI masih bisa menurunkan tingkat suku bunga acuannya hingga berada di kisaran 7 persen.

Pemerintah pada Februari lalu baru saja menerbitkan obligasi MTN Global senilai US$ 3 miliar. Namun yield yang dibayarkan cukup besar hingga mendekati 12%.Β 
(ang/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads