Hal ini disampaikan oleh Anggota DPR RI Dradjad H. Wibowo usai acara Dialog Nasional Peran Pengusaha Nasional Menghadapi Krisis Global Dalam Merebut Pasar Lokal yang diselenggarkan oleh Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HPPI), di Jakarta, Rabu (11/3/2009).
"Sinyal antara otoritas fiskal dan otoritas moneter tidak nyambung, jadi otoritas moneter menurunkan suku bunga, tapi otoritas fiskal menjual obligasi dengan dollar bunga 11,75% itu memberik sinyal suku bunganya naik, dua ini sinyalnya nggak sinkron," ucap Dradjad.
Menurut Dradjad sudah menjadi pengetahuan umum jika BI rate turun, maka suku bunga simpanan dan pinjaman akan ikut turun. Namun di Indonesia tidak selalu simetris, bahkan saat ini kondisinya sangat jomplang.
Dradjad menambahkan, penyebab lain sulitnya suku bunga turun adalah tingginya biaya perbankan, karena mencari likuiditas di pasar global sedang sulit di tengah krisis finansial kini. Bank-bank juga takut menurunkan suku bunga di tengah ketatnya persaingan.
"Sehingga bank-bank tidak berani menurunkan suku bunga simpanan, karena kalau diturunkan maka dana-dana dia lari, karena dolar saja sudah 11,75% pasti lari," katanya.
Dikatakannya, dengan perbankan tidak menurunkan suku bunga simpanan maka perbankan tetap menjaga net interest margin, sehingga tidak bisa menurunkan suku bunga pinjaman.
Sebelumnya Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla menghimbau agar kalangan perbankan bisa segera menyesuaikan penurunan BI rate dengan sukubunga perbankan.
(hen/qom)











































