Hal ini dikatakan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (13/3/2009).
"Ada tiga faktor yang menyebabkan penurunan kepemilikan asing di SUN. Pertama proses deleveraging masih berlangsung dimana investor yang mengalami kesulitan likuiditas, melepas atau menjual sebagian aset dalam bentuk surat berharga, terutama yang diterbitkan emerging countries termasuk Indonesia, agar bisa melunasi utangnya," tuturnya.
Kedua, investor mengurangi currency risk exposure karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cenderung melemah. Ketiga telah terjadi flight to quality karena pasar global masih volatile dan penuh ketidakpastian sehingga investor asing lebih memilih untuk memiliki US Treasury Securities yang dianggap aman.
"Mereka juga tidak berani pegang cash dan taruh di bank, mengingat banyak sekali maslah di bank Eropa dan US. Namun gejala ini tidak mengkhawatirkan bagi Pemerintah," kata Rahmat.
Alasan kondisi ini tidak mengkhawatirkan adalah karena pengurangan kepemilikan asing di SUN berlangsung secara bertahap atau gradual dan tidak ada 'sudden reversal' yang bisa mengganggu stabilitas pasar.
"Kemudian investor lokal seperti bank, asuransi, dana pensiun, reksa dana meningkatkan porsi SUN dalam portofolio asetnya. Lalu kondisi ini memberikan peluang untuk memperluas basis investor dalam negeri, misalnya melalui penerbitan berbagai instrumen ritel yang sukses selama ini," paparnya.
Menurut Data Ditjen Pengelolaan Utang, penurunan dana asing di SUN pada Januari 2009 sampai 10 Maret 2009 mencapai Rp 7,35 triliun, posisi dana asing di SUN sampai 10 Maret adalah Rp 78,67 triliun.
Total SUN yang diperdagangkan per 10 Maret Rp 542,83 triliun, yang terdiri dari bank nasional Rp 271,15 triliun, BI Rp 27,28 triliun dan non bank Rp 244,41 triliun.
(dnl/ir)











































