Bank Sentral Sejagat Diimbau Turunkan Suku Bunga

Bank Sentral Sejagat Diimbau Turunkan Suku Bunga

- detikFinance
Senin, 16 Mar 2009 14:45 WIB
Bank Sentral Sejagat Diimbau Turunkan Suku Bunga
Jakarta - Negara-negara G20 mengimbau agar bank sentral di dunia terus menjalankan kebijakan menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan kredit di tengah krisis ekonomi global saat ini.

Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (16/3/2009).
 
"Dalam rangkuman pertemuan G20 di London, dikatakan kebijakan moneter harus melanjutkan penurunan suku bunga acuan jika dimungkinkan dan mendorong pengucuran kredit," tuturnya.
 
Bank Indonesia sendiri saat ini juga terus melakukan penurunan suku bunga BI Rate yang kini di level 7,75% untuk mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan.
 
"Dalam komunike G20 dikatakan bank sentral yang tergabung dalam G20 akan me-maintain pelonggaran kebijakan moneter dengan menggunakan semua instrumen moneter yang ada," jelasnya.
 
Pertemuan G20 sendiri dihadiri oleh Menteri-Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20. Kesepakatan negara G20 itu merupakan hasil pertemuan awal menteri keuangan dan bank sentra pada 14 Maret 2009 di Horsham, London. Puncak pertemuan G20 akan berlangsung 2 April yang akan dihadiri sejumlah kepala negara.

Anggota negara G20 adalah Amerika Serikat, Argentina, Australia, Brazil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, dan Uni Eropa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IMF

Sementara Mankeu Sri Mulyani dalam jumpa pers di kantor presiden mengatakan dari hasil pertemuan negara G20 meski dalam komunike tidak disebutkan eksplisit, namun ada komitmen untuk meningkatkan resource atau dana seperti IMF, Bank Dunia dan ADB untuk membantu mengatasi kesulitan banyak negara akibat krisis ini.

"Nah berapa dana itu, yang sudah muncul kan atau yang sudah komplit persetujuannya itu ADB mendapatkan 200% capital increase. Begitu ADB sudah disetujui, Inter-American Development Bank merasa kok saya nggak dinaikkin. Jadi menteri keuangan AS itu minta supaya mereka juga disebut tapi kan mereka masih dalam tahap sangat awal. Kalau ADB based-nya takes long untuk bisa mendapatkan," tutur Menkeu.
 
Menkeu menjelaskan peningkatan dana ADB itu  bisa menambah US$ 15 miliar untuk additional lending capacity. Sedangkan untuk IMF juga disetujui untuk dinaikkan menjadi US$ 500 miliar sehingga sekarang kapasitasnya menjadi 2 kali lipat. Dana IMF ini terutama untuk mengkover negara-negara Eropa timur yang sedang mengalami krisis.

"Tapi banyak negara-negara yang sekarang menghadapi akibat krisis ini yang begitu sangat dan sekarang meluas. Jadi kayak bank dunia, Presiden Bank Dunia Robert Zoellick itu dalam pidatonya mengatakan trade facility, yang kedua adalah vulnerability facility," jelasnya.

Menkeu menjelaskan untuk negara-negara yang pendapatan negaranya rendah dengan adanya krisis ini baik karena overseas development assistancenya turun atau ekspornya tiba-tba anjlok akan menyebabkan kemiskinan yang melonjak tinggi.

"Maka Robert Zoellick mengusulkan dibuatlah additional facility namanya vulnerability facility," ujar Menkeu.
 
(ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads