Demikian disampaikan Direktur Keuangan BRI Abdul Salam di sela-sela peluncuran Apconex 2009 di Hotel Intercontinental, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (24/3/2009).
"Untuk dividen sedang kita usulkan ke Kementerian BUMN supaya kalau tahun lalu 50 persen deviden masuk ke pemegang saham, dalam keadaan sekarang dihimbau supaya kurang dari itu," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ia pun mencontohkan, misalnya kita dapat satu triliun, berarti modal kita bisa tambah kuat satu triliun itu bisa menaikkan 10 kali lipat dengan CAR itu. Itu harus disadari oleh owner itu manfaatnya besar sekali kalau kita diberi kesempatan," katanya.
Abdul mengakui, jika porsi dividen yang harus dibayarkan ke pemerintah berkurang jadi 20 persen, maka CAR perusahaan bisa mencapai 15 persen
"Ya sekitar itu, kan bagus. Sekarang kan CAR BRI 13,1 persen. Sebetulnya jauh dari ketentuan, ketentuannya kan 8 persen. Tapi sebagai bank jangkar kan 12 persen," katanya.
Selain meminta pengurangan porsi dividen, BRI juga sedang mempertimbangkan cara-cara lain dalam menjaga modalnya.
"Tahun ini kan hybrid atau subdebt agak sulit untuk ke luar negeri, kita coba yang di dalam negeri, sudah ada suatu pasar yang terbuka atau tidak," katanya.
Untuk kepastian subdebt (obligasi subordinasi) dalam negeri, hingga kini BRI masih mempelajari rencana tersebut. Diharapkan akhir semester ini subdebt dalam negerinya bisa diterbitkan.
"Kalau bisa akhir semester ini, tapi kalau tidak ya semester 2," katanya.
(lih/qom)











































