BI: BCSA RI-China Rp 175 Triliun Bentuk Stimulus Moneter

BI: BCSA RI-China Rp 175 Triliun Bentuk Stimulus Moneter

- detikFinance
Kamis, 26 Mar 2009 08:45 WIB
 BI: BCSA RI-China Rp 175 Triliun Bentuk Stimulus Moneter
Jakarta - Kerjasama BCSA (Bilateral Currency Swap Arrangement) antara Indonesia dengan China diharapkan bisa kembali meningkatkan kinerja ekspor dan impor Indonesia di tengah kondisi krisis ekonomi global.

Hal ini dikatakan oleh Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom dalam bicang-bincang di kantornya, Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (25/3/2009).

"Kerjasama BCSA dengan Cina ini sumbangan BI untuk dapat breakthrough atau menerobos
perdagangan yang terhambat akibat kekeringan likuiditas dolar AS di pasar internasional. Kerjasama ini bentuk lain dari kebijakan penurunan suku bunga agar bottleneck sektor perdagangan bisa diputus melalui kerjasama ini dan ini salah satu stimulus moneter," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bank Indonesia dan Bank Sentral China sebelumnya telah menandatangani kerjasama BCSA senilai RMB 100 miliar atau sekitar Rp 175 triliun. Kerjasama ini di luar kerangka Chiang Mai Initiative, dan ditujukan untuk mendongkrak kerjasama perdagangan kedua negara.

Miranda mengatakan di tengah kondisi krisis ekonomi global saat ini, kebijakan
penurunan suku bunga oleh bank sentral belum menjamin pembiayaan atau kredit bisa
berjalan khususnya di sektor perdagangan.

"Karena itu harus ada stimulus moneter di luar itu (penurunan suku bunga)," imbuhnya.

Dijelaskan Miranda, saat ini krisis keuangan global sudah menjalar ke sektor riil
sehingga menyebabkan volume perdagangan dunia turun besar.

"Yang terjadi saat ini demand turun dan financing juga kering, maka jadi double glow. Karena itu kerjasama BCSA dengan China diharapkan bisa membantu mendorong perdagangan antar dua negara," katanya.

Saat ini BI sedang menggodok aturan teknis untuk menunjuk bank-bank yang menjadi penyalur RMB di dalam negeri dalam rangka kerjasama BCSA ini.

"Kerjasama ini hubungannya antara kedua bank sentral saja, jadi tujuannya agar permintaan dolar akan berkurang di pasar," jelas Miranda.

Menurut data BI, dalam aktivitas perdagangan antara Indonesia dan China, untuk kebutuhan impor dari China saja, pengusaha Indonesia pada 2008 membutuhkan pasokan dolar AS sebanyak US$ 105,6 juta.Β  China merupakan negara keempat terbesar volume perdagangannya dengan Indonesia baik ekspor maupun impor.

"Jadi dengan pasokan RMB, para pedagang dari kedua negara tidak perlu repot cari dolar lagi," katanya.

(dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads