Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI), Boediono seusai shalat Jumat di Gedung BI, Jakarta, Jumat (27/3/2009).
Boediono menambahkan, jika hanya satu mata uang yang dipakai untuk sebuah transaksi tergantung pada naik turunnya ekonomi suatu negara, maka hal itu akan berbahaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembentukan satu mata uang global untuk transaksi perdagangan dunia salah satunya diserukan oleh China. Namun menurut Boediono, sejauh ini China belum meminta suport dari BI untuk menggolkan rencana tersebut.
"Dengan China saat ini masih dalam wacana, untuk mencapai ke situ, maka masih dibutuhkan beberapa kesepakatan," tegasnya.
Saat ditanya mengenai AS yang menolak mata uang tunggal ini, Boediono hanya mengatakan: "Kita kan orang Indonesia ya."
Yang pasti, lanjut Boediono, proses menuju pembentukan mata uang tunggal ini masih panjang. Namun Boediono belum tahu apakah nantinya dalam pertemuan G20 akan dibahas mengenai masalah ini.
"Saya nggak tahu ya, kan ada yang menggodok. Tapi dari segi BI, itu adalah satu langkah ke depan yang perlu kita mulai, laksanakan. Prosesnya panjang itu, tidak bisa dalam setahun, dua tahun. Tapi kalau arahnya sudah betul, itu bagus," pungkas Boediono.
(dru/qom)











































