Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur BCA, D.E. Setijoso dan Direktur Utama BNI Gatot Suwondo dalam paparan publik kinerja di tempat terpisah, Senin (30/3/2009).
Gatot menjelaskan, BNI memperkirakan NPL di tahun 2009 meningkat, dibandingkan NPL bank pelat merah tersebut yang kini tingkat 4,9 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sepanjang tahun 2008, total NPL perseroan mencapai Rp 5,5 triliun. Rinciannya, NPL kredit korporasi turun dari 8 persen di tahun 2007 ke 4,9 persen, kredit usaha menegah di posisi 8,6 persen dari sebelumnya 13,2 persen.
Sedangkan untuk NPL sektor usaha kecil berada di posisi 3,8 persen dari tahun sebelumnya 8 persen, dan NPL kredit konsumer sebesar 2,8 persen.
"Kita masih coba jaga di sektor menengah karena masih tinggi. Penyaluran kreditnya tahun ini pasti selektif sekali dan fokus ke penjagaan NPL-nya," ujarnya.
Ia menambahkan, sektor yang paling dominan untuk tumbuh NPL-nya yaitu manufaktur di kredit usaha menegah dan perdagangan di sektor usaha kecil.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Korporasi BNI Khrisna Suparto mengatakan, untuk menjaga meningkatnya NPL kredit korporasi pihaknya telah melakukan penajaman target nasabah dengan seleksi yang lebih ketat sejak tahun 2008.
"Kita akan tetap fokus di infrastruktur karena prospeknya masih tinggi. Dengan cara menggaet pemain yang unggul baik BUMN maupun swasta," ujarnya.
Namun ia mengatakan, ada beberapa nama yang dikhawatirkan memiliki NPL tinggi, antara lain perusahaan yang terkait dengan banyak ekspor. Terutama perusahaan yang sebelumnya mengunggulkan ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa.
NPL BCA
Ditempat terpisah, Setijoso mengatakan NPL BCA akan mengalami peningkatan karena dipicu oleh beratnya pertumbuhan ekonomi ditahun ini.
"NPL BCA tahun ini akan mengalami peningkatan, karena keadaan ekonomi yang cukup berat, terutama pemberian kredit disektor ekspor," ujarnya tanpa menyebut angka kenaikan NPL.
Pada tahun 2008, NPL BCA tercatat sebesar 0,6 persen dengan cadangan kredit bermasalah sebesar 408,4 persen. NPL sebesar Rp 6,75 miliar dengan pencadangan sekitar Rp 2,7 triliun. Wakil Dirut BCA Jahja Setiaadmadja menambahkan, BCA memang akan terus meningkatkan terus provisinya.
"Selama masih memungkinkan, kita akan terus meningkatkan provisi kita dan kita lihat profit kita, saya kira itu akan terus ditingkatkan untuk mencadangkan, kalau-kalau terjadi nanti ada satu atau dua perusahaan (debitur) yang kurang bagus, kita sudah siap," papar Setijoso dalam acara Analyst Meeting BCA di Hotel Indonesia Kempinski.
Khusus untuk NPL kartu kredit BCA pada tahun 2008 mencapai Rp 70 miliar atau sekitar 2,4% dari total penyaluran kredit melalui kartu kredit sebesar Rp 2,8 triliun. Tingkat NPL Kartu kredit, diakui Jahja memang akan meningkat akibat krisis.
"NPL BCA termasuk yang paling rendah dan masih berada dalam zona aman," tambahnya.
Selain itu, BCA menargetkan pertumbuhan kredit 15 persen tahun 2009. Sektor UKM diharapkan masih memberi kontribusi terbesar untuk pertumbuhan kredit BCA.
"Pertumbuhan kredit ditahun ini ditargetkan 15 persen dengan komposisi paling besar di kredit Small and Medium Enterprise (SME) yaitu 40 persen," ujar ,
Ia menjelaskan, komposisi kredit BCA di tahun 2009 diharapkan adalah 35 persen untuk korporasi, 40 persen SME, 20 sampai 25 persen di Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan sisanya kredit kendaraan bermotor dan kartu kredit.
Pada akhir tahun 2008, kredit korporasi BCA tumbuh sebesar 42,3 persen menjadi Rp 46,0 triliun. "Hal ini karena terjadi adanya kelangkaan sumber pendanaan alternatif bagi nasabah-nasabah korporasi," jelas Setijoso.
Sementara kredit komersial dan UMKM BCA di tahun 2008 meningkat sebesar 27,3 persen menjadi Rp 45,9 triliun. Sedangkan penyaluran kredit konsumer mencatat pertumbuhan yang juga signifikan yaitu sebesar 47,8 persen menjadi Rp 21,0 triliun.
"Ini didukung oleh pertumbuhan disemua produk kredit konsumer," katanya.
Selama tahun 2008, BCA memperluas jaringan perbankan elektronik dengan menambah 35 cabang, 343 ATM dan 16.105 Electronic Data Capture. Nilai transaksi melalui ATM meningkat sebesar 21,9 persen menjadi Rp 807,6 triliun sedangkan nilai transaksi melalui internet banking meningkat sebesar 62,3 persen menjadi Rp 991,8 triliun. (dru/qom)











































