Dividen di Bawah 50%, BRI Pasang Pertumbuhan Kredit 22%

Dividen di Bawah 50%, BRI Pasang Pertumbuhan Kredit 22%

- detikFinance
Selasa, 31 Mar 2009 12:31 WIB
Dividen di Bawah 50%, BRI Pasang Pertumbuhan Kredit 22%
Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 18-22 persen di tahun 2009.
 
Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur Operasional BRI Sarwono Sudarto disela-sela paparan kinerja 2009 di Gedung BRI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (31/3/2009).
 
"Untuk pertumbuhan kredit tahun ini kita proyeksikan naik 18-22 persen," katanya.
 
Ia mengatakan, pertumbuhan kredit itu akan ditopang oleh pertumbuhan bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM) yang selama ini menjadi fokus penyaluran kredit perseroan.
 
Menurutnya, pertumbuhan sektor industri UMKM tersebut melampaui perkiraan para pelaku industrinya di tahun ini sebesar 14-16 persen.
 
"Maka dari itu kita optimis bisa tercapai," katanya.
 
Mengenai proyeksi kredit macet alias non performing loan (NPL) 2009, ia mengatakan, maksimum akan ditahan di bawah 5 persen.
 
Bank plat merah itu optimis bisa menahan tingginya posisi NPL dengan tetap fokus di kredit UMKM, karena orientasi sektor usaha tersebut tidak terlalu terpengaruh krisis ekonomi global dengan banyak bermain di bisnis domestik.
 
"Rata-rata ekspor mereka tidak terlalu besar, bahkan ada yang tidak melakukan ekspor," ungkapnya.
 
Kaji sub debt

 
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan BRI Abdul Salam mengatakan, perseroan juga sedang mengkaji untuk melakukan penerbitan sub debt dalam bentuk rupiah tahun ini.
 
"Kalau diterbitkan dalam bentuk dolar AS tentu tidak memungkinkan dalam pasar yang seperti ini," ujarnya.
 
Saat ini, perusahaan negara itu sedang melakukan pengkajian mengenai besaran dan waktu penerbitannya. Perseroan juga mengkaji kemungkinan mengeluarkan hybrid capital sebgaai alternatif dari sub debt.
 
"Nanti kita kaji yang mana paling menguntungkan," jelasnya.
 
Sementara itu, untuk memperkuat modal perseroan di tahun 2009, pihaknya juga akan memperkecil dividen pay out ratio dari tahun buku 2008.
 
Namun sayang, ia enggan menyebutkan besaran dividennya karena sudah diusulkan ke Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku pemegang saham mayoritas tapi belum mendapat kepastian.
 
"Kementerian masih pertimbangkan. Mereka tinggal exercise angkanya saja. Lebih rendah dari 50 persen lebih baik," ujarnya.

(ang/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads