BSM Jadi LPP Restrukturisasi Mesin

BSM Jadi LPP Restrukturisasi Mesin

- detikFinance
Selasa, 31 Mar 2009 14:34 WIB
BSM Jadi LPP Restrukturisasi Mesin
Jakarta - Bank Syariah Mandiri (BSM) terpilih sebagai Lembaga Pengelola Program (LPP) restrukturisasi mesin tekstil dan produk tekstil (TPT) 2009. BSM telah menyisihkan Permodalan Nasional Madani (PNM) Venture Capital (VC) yang merupakan anak usaha PNM yang sebelumnya menangani program restrukturisai mesin TPT di 2007 dan 2008.
 
"Sekarang ini kerjasama dengan PNM sudah habis masa kerjanya. Untuk 2009 ini LPP-nya dengan Bank Syariah Mandiri selama lima tahun juga," jelas Direktur Industri Tekstil Dirjen ILMTA Departemen Perindustrian Aryanto Sagala dalam acara konferensi pers di gedung Depperin Jakarta, Selasa (31/3/2009).
 
LPP merupakan mekanisme khusus dalam restrukturisasi mesin TPT khususnya untuk jalur restrukturisasi skim 2 yang ditujukan bagi industri TPT skala kecil dan menengah.
 
Dalam pelaksanaan Skim 2, setiap peserta program harus memiliki ekuitas minimal 20% dari total harga mesin yang akan dibelinya, sedangkan 70% berasal bantuan kredit pemerintah (Depperin) dan 10% dari BSM. Sehingga total kredit yang harus ditanggung oleh perusahaan yang mengikuti skim 2 mencapai 80% dari harga barang yang dibeli sebagai kredit dengan bunga rendah.
 
Aryanto menjelaskan kerjasama dengan PNM VC sudah digalang sejak 2007 dan 2008 lalu, namun proses pembayaran kredit itu baru selesai pada tahun 2012. Sedangkan untuk Bank Syariah Mandiri dimulai dari tahun 2009 hingga 2014.
 
"Kerjasama dengan LPP itu untuk Skim 2 saja, kerjasama untuk 5 tahun dengan suku bunga 7%," jelasnya.
 
Pada tahun 2009 ini, Departemen Perindustrian mengalokasikan anggaran Rp 240 miliar untuk restrukturisasi mesin, yang meliputi skim 1 sebesar Rp 213 miliar dan skim 2 sebanyak Rp 27 miliar.
 
Program restrukturisasi mesin industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mulai dilakukan pada April 2007 lalu yang telah diserap sebanyak Rp 153,31 miliar kepada 92 perusahaan TPT yang memacu investasi sebesar Rp 1,55 triliun. Pada tahun 2008 telah dialokasikan Departemen Perindustrian Rp 330 miliar, namun hanya terserap Rp 181,7 miliar untuk 175 perusahaan TPT dengan tingkat investasi Rp 1,71 triliun.


(hen/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads