"Memang idealnya ada calon internal dari BI. Saya yakin masih cukup banyak orang bersih di BI, hanya mungkin mereka tidak berani berkata 'tidak'," jelas anggota Komisi XI DPR RI Dradjad H Wibowo kepada detikFinance, Rabu (1/4/2009).
Dua calon pengganti Miranda adalah Dirjen Pajak Darmin Nasution dan Komisaris Independen Bank Mandiri yang juga mantan Ketua Perbanas Gunarni Soeworo. Dradjad mengatakan, sebenarnya dari internal BI cukup banyak yang layak dicalonkan sebagai DGS BI. Ia pun menyebut salah satunya adalah Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dradjad menambahkan, penunjukan dua orang luar BI untuk menjadi pengganti Miranda tersebut bisa ditafsirkan sebagai bentuk "vote of no confidence' pemerintah terhadap BI.
"Karena untuk dua posisi puncak di BI yaitu Gubernur dan Deputi Gubernur Senior, pemerintah selalu mengusulkan orang luar. Tapi disisi orang dalam BI juga perlu introspeksi dan memperbaiki lubang-lubang yang ada," ujar Dradjad.
Seperti diketahui, pemerintah juga sebelumnya mengajukan nama Raden Pardede dan Agus Martowardojo untuk menjadi Gubernur BI menggantikan Burhanuddin Abdullah. Namun kedua nama yang merupakan orang luar BI itu ditolak oleh DPR, sehingga selanjutnya pemerintah mengajukan nama mantan Menko Perekonomian Boediono. DPR pun secara aklamasi menerima bulat Boediono sebagai Gubernur BI.
Lebih lanjut Boediono menjelaskan, kedua calon DGS BI tersebut memang orang-orang yang sangat berpengalaman di bidang keuangan dan perbankan. Darmin Nasution bahkan dilihat Dradjad lebih lengkap pengalamannya ketimbang Gunarni.
"Darmin Nasution malah komplet pengalamannya, mulai dari pengawasan lembaga keuangan, rekapitalisasi perbankan, komisaris bank, Bapepam sampai pajak. Ibaratnya Darmin itu 'jamu komplet dengan susu, telor, madu dan jahe," katanya.
Sementara Gunarni dilihatnya cukup berpengalaman di sektor perbankan karena pernah menjadi Ketua Perbanas. Gunarni juga merupakan mantan Dirut Bank Niaga yang kini berganti nama menjadi CIMB Niaga.
Dradjad menilai Darmin Nasution akan lebih dijagokan dari sisi pengalaman. Namun apakah secara politik Darmin bisa diterima, Dradjad mengaku tidak tahu.
"Saat ini masih terlalu dini untuk melihat. Konstelasi politik paska pemilu bisa saja punya pengaruh. Jadi kuncinya adalah akseptabilitas politik Darmin Nasution. Kita lihat saja nanti," pungkasnya. (qom/ir)











































