Ekonom BRI Djoko Retnadi mengatakan, secara umum perbankan belum berani menurunkan suku bunga kreditnya. Namun secara khusus pada satu usaha tertentu yang dinilai berisiko rendah, penurunan suku bunga kredit mungkin saja diberikan.
"Suku bunga kredit belum bisa turun secara general, mungkin case by case tergantung dari risk premium dari masing-masing industri dan nasabahnya. Secara umum belum ada (bank) yang berani menurunkan. Namun misalnya kita bicara satu industri tekstil tidak semua industri tekstil beresiko tinggi ada yang survive, dan itu mungkin bisa diturunkan, tapi tidak secara umum," tuturnya saat ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (8/4/2009).
Djoko mengatakan, keengganan perbankan untuk menurunkan suku bunga kreditnya tidak berkaitan dengan kondisi neraca keuangannya, karena secara umum neraca keuangan perbankan nasional masih cukup sehat.
"Saya kira tidak ada hubungannya langsung dengan kesehatan perbankan, suku bunga kaitan pertama dengan profitabilitas. Itu tercermin dari ROA dan ROE dan sedikit di NIM. Suku bunga tidak turun karena risiko premium di industri saat ini masih cukup tinggi," ujarnya.
Selain itu, faktor persaingan juga menjadi alasan bank masih enggan menurunkan suku bunga kreditnya, karena bank-bank besar masih mematok suku bunga kredit yang tinggi. "Kalau satu bank menurunkan, yang lain tidak akan bersaing," katanya.
Dia pun berharap bank-bank BUMN akan kompak menurunkan suku bunganya sehingga dapat menjadi pelopor penurunan suku bunga kredit perbankan.
Dengan penurunan BI Rate sampai 7,5% saat ini, seharusnya suku bunga kredit perbankan bisa mengikuti penurunan tersebut.
"Mestinya suku bunga kredit 5% sampai 6 % diatas BI Rate, jadi mungkin suku bunga antara 13-14%, tapi tidak bisa langsung ada jeda waktunya dan itu bisa dicapai di akhir tahun karena bank banyak pertimbangannya," pungkasnya.
(dnl/lih)











































