Pemulihan Ekonomi Terhambat Bunga Pinjaman yang Tinggi

Pemulihan Ekonomi Terhambat Bunga Pinjaman yang Tinggi

- detikFinance
Senin, 13 Apr 2009 09:05 WIB
Pemulihan Ekonomi Terhambat Bunga Pinjaman yang Tinggi
Jakarta - Perekonomian Indonesia akan gagal merespons gejala awal pemulihan jika tidak mengikuti tren penurunan suku bunga di pasar uang internasional. Masih tingginya bunga pinjaman bank menjadi penghambatnya.
 
Hal ini dikatakan oleh Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin Indonesia Bambang Soesatyo kepada detikFinance, Senin (13/4/2009).
 
"Gejala awal pemulihan mulai menampakan wujudnya di pasar uang London. Suku bunga Libor/London Interbank Offered Rate (pinjaman antarbank dalam denominasi dolar AS) turun lagi 0,01%, menjadi 1,13%. Sedangkan suku bunga Euribor (Euro Interbank Offered Rate), pinjaman antarbank denominasi Euro, juga turun 0,01% menjadi 1,43%," tuturnya.
 
Dikatakan Bambang, penurunan suku bunga Libor dan Euribor dimaknai sebagai upaya pemerintah dan perbankan di lingkungan Uni Eropa menerobos stagnasi pinjaman antarbank.

"Keengganan bank-bank besar atau sehat meladeni pinjaman antarbank menimbulkan ekses berupa tingginya suku pinjaman, serta lumpuhnya sektor riil global sebagai dampak ikutannya," katanya.
 
Menurutnya saat ini, sektor riil dalam negeri nyaris lumpuh akibat tingginya suku bunga pinjaman. Setelah BI Rate berkali-kali diturunkan hingga di posisi 7,50%. Sekarang ini menurutnya sudah terbukti BI Rate gagal menjalankan fungsinya sebagai instrumen penggerak naik-turunnya suku bunga. Kegagalan itu disebabkan perbankan nasional digelayuti masalah kering likuiditas.
 
"Selama masih digelayuti kering likuiditas, tidak realistis mengharapkan bank menurunkan suku bunga. Bahkan sebaliknya, demi menyehatkan likuiditas, bank-bank kini justru makin gencar mencari deposan besar dengan iming-iming bunga deposito yang tinggi. Karena beban bunga yang tinggi, bank mengkompensir beban itu juga dengan menawarkan bunga yang tinggi untuk kredit modal kerja, investasi dan kredit konsumsi," tuturnya.
 
Padahal, untuk merespons gejala awal pemulihan ekonomi global, bunga pinjaman di dalam negeri harus diturunkan ke level yang moderat, di kisaran 10% guna memberi ruang tumbuh bagi sektor riil.

"Kalau formula bunga pinjaman dibiarkan seperti sekarang, ekonomi Indonesia tidak akan mampu merespon gejala awal pemulihan itu. Kerusakan ekonomi kita tentu akan bertambah parah," imbuhnya.
 
Salah satu alternatif menurunkan suku menurut Bambang adalah kesediaan BI segera merealisasikan pooling fund yang bisa dimanfaatkan bank mengurangi problem likuiditasnya. Jelas bahwa pooling fund amat mengandalkan kesediaan bank-bank besar yang kelebihan likuiditas menempatkan dananya. Agar perbankan yakin, BI harus mau menjadi pengelola pooling fund. Sebab, BI-lah yang memiliki data akurat tentang kinerja dan bobot risiko semua bank di dalam negeri.
 
Dengan pooling fund itulah kegiatan pinjaman antarbank bisa dipulihkan. Semua bank, utamanya bank kecil yang sebelumnya kesulitan mendapatkan dana dari mekanisme pinjaman antarbank, mendapatkan akses meminjam dari pooling fund.
 
"Dampak positif lainnya. akan terbentuk penyeragaman suku bunga yang merefleksikan realitas pasar dan bobot risiko masing-masing bank," tukasnya.

(dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads