Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia (BI), Halim Alamsyah mengatakan dalam pemberian kredit saat ini perbankan cenderung selektif.
Halim mengatakan, perbankan sedang melakukan konsolidasi ke dalam. "Mereka ingin membersihkan neracanya supaya tetap sehat seperti melakukan write off," katanya di Gedung BI, Jakarta, Jumat (24/4/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya kata Halim, kredit konsumer masih menjadi fokus utama perbankan di saat kredit korporasi cenderung berhenti.
"Beberapa sektor sudah dipelajari (mengenai risiko kreditnya), namun sektor seperti kredit konsumer masih terus berjalan, beberapa bank sudah mulai berani menurunkan suku bunganya untuk mendorong konsumer lending," papar Halim.
Di dalam regulasi BI, untuk mengurangi potensi kegagalan usaha, maka bank wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit, antara lain dengan melakukan penyebaran (diversifikasi) portofolio penyediaan dana melalui pembatasan penyediaan dana, baik kepada pihak terkait maupun kepada pihak bukan terkait.
Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia, Wimboh Santoso dalam pertemuan dengan wartawan di Gedung BI, Jakarta, Jumat kemarin mengatakan, rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan saat ini tren-nya meningkat.
"Pada bulan Desember tahun 2008 sebesar 3,8 persen, di bulan Januari 2009 NPL naik menjadi 4,2 persen, dan di bulan Februari 2009 mencapai 4,3 persen," ujarnya.
Ia menegaskan risiko kredit perbankan dapat dikurangi jika perbankan lebih selektif dalam menyalurkan kredit. "NPL perbankan dapat ditekan bila saat ini perbanakan selektif dalam memberikan kredit," pungkasnya.
(dru/ir)











































