Aset Perbankan Syariah Dunia Capai US$ 1 Triliun Tahun 2010

Aset Perbankan Syariah Dunia Capai US$ 1 Triliun Tahun 2010

- detikFinance
Selasa, 28 Apr 2009 12:28 WIB
Aset Perbankan Syariah Dunia Capai US$ 1 Triliun Tahun 2010
Jakarta - Aset perbankan syariah dunia diprediksi mencapai US$ 1 triliun di tahun 2010. Perbankan syariah global tetap mampu mencatat pertumbuhan di tengah tekanan krisis.

Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Siti Halimah Fadjriah yang diwakilkan oleh Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI, Ramzi A Zuhdi dalam acara seminar "Ekonomi Syariah, Alternatif Solusi Di Tengah Krisis Keuangan Global" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (28/4/2009).

Ramzi menjelaskan, aset perbankan syariah saat ini mencapai US$ 634 miliar. Untuk tahun 2009 diprediksi pertumbuhannya akan mencapai 27%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tahun ini perbankan syariah dunia akan tumbuh sebesar 27% dengan jumlah aset akan mencapai US$ 1 triliun di tahun 2010," jelas Ramzi.

Untuk pertumbuhan aset dan pembiayaan perbankan syariah di Indonesia diproyeksikan mencapai 25 persen di tahun 2009. Saat ini aset perbankan syariah Indonesia mencapai Rp 52 triliun.

"Tahun ini, aset perbankan syariah akan terus tumbuh dan akan mencapai angka Rp 70 trilun sampai Rp 75 triliun. Pangsa pasar perbankan syariah yang hanya 2 persen tahun lalu, akan terus tumbuh mencapai diatas 5 persen," ujarnya

Jumlah rekening perbankan syariah di Indonesia juga terus tumbuh. Ramzi mengatakan di akhir tahun 2007 jumlah rekening mencapai 3 juta rekening, namun dari tahun 2008 hingga sekarang sudah mencapai 4,9 juta rekening.

"Selain itu jumlah sumber daya manusia yang berkarya di sektor syariah mencapai 12.000 karyawan," ujarnya.

Perbankan syariah, lanjut Ramzi, akan terus tumbuh karena perbankan syariah sangat sedikit terimbas krisis global. Prinsip syariah mampu bertahan dari krisis karena tidak mengenal transaksi yang bersifat spekulatif. Produk-produk spekulatif tidak dikenal dalam perbankan syariah.

"Seperti kasus Elnusa dengan Danamon, yang menyebabkan kerugian yang sangat besar, hal seperti ini tidak akan terjadi di perbankan syariah," tegas Ramzi.

Perbankan syariah sangat fokus pada konservatif program, bergerak di sektor riil dan terhindar dari risiko tinggi. Menurut Ramzi, jika sistem ekonomi di Indonesia memakai sistem ekonomi syariah maka Indonesia akan terhindar dari krisis.

Di samping itu, Ramzi menambahkan, secara makro perbankan syariah dapat mengantisipasi goncangan inflasi berkurang. Hal ini karena perbankan syariah secara jelas menggunakan underlying asset.

"Underlying asset akan menyebabkan demand berkurang dan inflasi pun akan berkurang," kata Ramzi.

Ramzi mengungkapkan, sebanyak lima bank syariah sudah menyampaikan izin dan persyaratan ke BI pada saat krisis global. Dan saat ini sudah ada 3 bank yang siap untuk memisahkan unit syariahnya.



(dru/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads