Hal ini disampaikan oleh Wakil Presiden Direktur Bank BCA Jahja Setiaatmadja usai acara konferensi pers di Jakarta, Rabu (29/4/2009).
"Kita juga masuk di SUN, Sukuk, Rp 43 triliun itu seluruh obligasi pemerintah yang kita miliki sampai saat ini," terangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain obligasi negara, BCA juga menempatkan obligasi korporasi sebesar Rp 6 triliun dalam bentuk rupiah dan dolar AS diantaranya Rp 4,8 triliun dalam bentuk rupiah dan Rp 1,2 dalam bentuk dolar AS.
Sedangkan untuk pinjaman antar bank (PUAP), hingga kini ada sekitar Rp 10 triliun, diantaranya dalam bentuk rupiah Rp 2,5 triliun, serta sisanya dalam bentuk dolar AS.
Jumlah penempatan dana di SBI hingga kini telah mencapai Rp 38 triliun, sedangkan di luar SBI mencapai Rp 3,2 triliun sehingga total likuiditas kurang lebih sekitar 41 triliun lebih.
"Pendapatan dari obligasi itu menyumbang sekitar 20%," imbuh Jahja.
Optimistis Kredit 2009 Capai 15%
BCA juga optimistis pencapaian pertumbuhan kredit pada tahun 2009 bisa tumbuh hingga 15%. Perseroan memperkirakan pertumbuhan kredit masih akan menggeliat di semester kedua 2009 yang ditopang oleh kredit korporasi.
"Pertumbuhan kredit pada tahun 2009, 15% saya kira akan tercapai," kata Dirut BCA DE Setijoso.
Sementara itu Direktur Corporate Banking Bank BCA Dhalia Mansor Ariotedjo mengatakan bahwa permintaan kredit pada semester II-2009 masih memungkinkan untuk kredit-kredit korporasi.
Ia mencontohkan untuk perusahaan-perusahaan telekomunikasi diperkirakan akan meningkatkan kapasitasnya, sehingga berdampak pada peningkatan permintaan kredit.Selain itu, diperkirakan akan ada peningkatan kredit, di industri semen sedang mencari dana.
"Perkebunan juga sedang mencari dana," ujarnya.
Pada akhir Maret 2009 portofolio kredit Bank BCA mencapai Rp 107,3 triliun, atau mengalami pertumbuhan dari periode yang sama di tahun lalu Rp 84,1 triliun. Misalnya kredit korporasi masih tumbuh hingga 26,6% menjadi Rp 44,6 triliun dibandingkan tahun lalu.
BCA Syariah
Sementara itu rencana realisasi pembentukan BCA Syariah diperkirakan akan rampung pada bulan September 2009. Hingga kini masih dalam tahap proses penyelesaian perizinan di Bank Indonesia (BI).
"Kalau di BI nggak ada masalah, September ini sudah bisa jalan syariahnya, kita pakai Karim Consultan," jelas Jahja.
Ia mengharapkan pada bulan September BCA Syariah sudah mulai beroperasi paling tidak di Jakarta dengan beberapa cabang. Meskipun ia tidak menutup kemungkinan ada pergeseran jadwal operasional.
"Molor-molor dua bulan biasa lah, kalau nggak September, ya November, intinya tahun ini lah," ucapnya.
Rencanannya untuk tahap pengoperasian tahun pertama, perseroan menargetkan pendirian 2 sampai 3 cabang syariah terutama untuk wilayah Jakarta. Sedangkan untuk tahun 2010, perseroan belum melakukan perencanaan lagi.
"Akan kita lihat nanti, maka tambahannya akan sesuai dengan program kerja tahun depan. Saat ini asetnya Rp 705 miliar (syariah), itu masih kecil lah," katanya.Kredit Macet
Wapresdir BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan salah satu penyebab kenaikan NPL pada triwulan I-2009 adalah karena sejumlah nasabah di sektor manufaktur dan infrastrultur mengalami kredit macet sehingga berdampak langsung pada kenaikan NPL (dari 0,8% menjadi 1,6%).
Saat ini satu dari dua nasabah itu sedang dalam proses restrukturisasi kredit, yaitu nasabah dari sektor steel.
"Dua nasabah besar, industri jalan tol sekitar Rp 575 miliar, steel industri sekitar 500 miliar. Steel sudah melakukan restrukturisasi sesuai dengan ketentuan BI," katanya. (hen/ir)











































